Gunung Ciremai: Amanah Ilahi yang Kian Terabaikan oleh Manusia

KUNINGANSATU.COM,- Gunung Ciremai sebagai gunung tertinggi di Jawa Barat bukan sekadar bentang alam, melainkan bukti ayat kauniyah (tanda-tanda kebesaran Allah SWT) yang mengandung amanah besar bagi manusia. Dalam perspektif Islam, alam bukan objek eksploitasi, tetapi titipan amanah yang wajib dijaga keseimbangannya.
Namun, kondisi Gunung Ciremai saat ini menunjukkan berbagai persoalan serius: degradasi ekosistem, tekanan aktivitas manusia yang tidak bertanggung jawab, ancaman kerusakan hutan, hingga berkurangnya kesadaran ekologis. Fenomena ini mencerminkan krisis hubungan manusia dengan alam, yang dalam Islam dikenal sebagai bentuk fasad fil ardh (kerusakan di muka bumi).
Allah SWT berfirman:
“Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).”
(QS. Ar-Rum: 41)
Ayat ini menegaskan bahwa krisis lingkungan bukan semata persoalan teknis, melainkan krisis moral dan spiritual. Ketika manusia mengabaikan nilai keseimbangan, keadilan, dan tanggung jawab sebagai khalifah fil ardh, maka alam merespons dengan kerusakan dan bencana ekologis.
Gunung Ciremai sejatinya memiliki fungsi vital: sebagai penjaga keseimbangan iklim, sumber air bagi masyarakat Ciayumajakuning, serta ruang hidup bagi keanekaragaman hayati. Dalam Islam, merusak sumber kehidupan berarti melanggar prinsip hifdz al-bi’ah (menjaga lingkungan).
Tanggung jawab ekologis bersifat abadi, bahkan hingga akhir zaman. Maka, segala bentuk pembiaran terhadap kerusakan Gunung Ciremai adalah bentuk kelalaian terhadap nilai-nilai keislaman itu sendiri.
Oleh karena itu, diperlukan langkah nyata dan kolaboratif:
Penguatan kesadaran ekoteologis di tengah masyarakat dan institusi pendidikan.
Penegakan hukum lingkungan yang berkeadilan dan berpihak pada kelestarian.
Keterlibatan aktif masyarakat, khususnya mahasiswa dan generasi muda, dalam gerakan advokasi dan konservasi Gunung Ciremai.
Menjaga Gunung Ciremai bukan hanya kewajiban ekologis, tetapi juga ibadah sosial dan wujud ketaatan kepada Allah SWT. Syekh Yusuf Al Qaradhrawi beliau berkata dalam bukunya yang berjudul Al-Bi’ah Fi Syari’ah Al-Islam : Merusak lingkungan adalah bentuk pengkhianat terhadap Allah SWT.
Oleh : Deden Ahmad Nur’alim Husaeni, Mahasiswa Komunikasi dan Penyiaran Islam
Universitas Islam Al-Ihya Kuningan


















