Cegah Tungro Sejak Dini, Diskatan Kuningan Dampingi Petani Cikaso
KUNINGANSATU.COM,- Pemerintah Kabupaten Kuningan menunjukkan keseriusannya menjaga produktivitas pertanian dengan melakukan langkah cepat pengendalian Organisme Pengganggu Tumbuhan (OPT) padi. Melalui Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (Diskatan), gerakan pengendalian (Gerdal) penyakit tungro dilaksanakan di lahan seluas 5 hektare di Desa Cikaso, Kecamatan Kramatmulya.
Kegiatan tersebut dilaksanakan pada pekan ini oleh Kelompok Tani Bina Karya III Desa Cikaso sebagai tindak lanjut hasil pengamatan Petugas Pengendali Organisme Pengganggu Tumbuhan (POPT) Kecamatan Kramatmulya. Dari hasil pemantauan di lapangan, ditemukan indikasi awal penyebaran penyakit tungro yang berpotensi mengganggu pertumbuhan tanaman padi jika tidak segera ditangani.
POPT Kecamatan Kramatmulya dari UPTD Brigade Proteksi, Anas Nasrudin, mengatakan pengendalian sejak dini menjadi kunci utama untuk memutus siklus penyebaran penyakit.
“Berdasarkan hasil pengamatan, diperlukan gerakan pengendalian terpadu agar penyakit tungro tidak meluas dan produksi padi petani tetap aman,” ujarnya.
Kepala Diskatan Kabupaten Kuningan, Wahyu Hidayah, turut hadir langsung di lokasi kegiatan. Ia tidak hanya memberikan penyuluhan teknis kepada petani, tetapi juga turun ke sawah melakukan penyemprotan bersama sebagai bentuk pendampingan dan pengawalan langsung dari pemerintah daerah.
Menurut Wahyu, pengendalian OPT harus dilakukan secara serempak, tepat waktu, dan sesuai rekomendasi teknis agar hasilnya efektif.
“Kehadiran kami di lapangan untuk memastikan petani memahami cara pengendalian yang benar. Pengendalian OPT tidak bisa dilakukan sendiri-sendiri, harus bersama-sama,” kata Wahyu.
Dalam kesempatan tersebut, Wahyu juga menyampaikan target Diskatan Kuningan pada tahun 2026 untuk meningkatkan surplus padi daerah menjadi 125 ribu ton, naik dari capaian sebelumnya sebesar 120 ribu ton.
Ia menjelaskan, penyakit tungro disebabkan oleh virus yang ditularkan melalui serangga vektor wereng hijau. Gejalanya antara lain daun menguning hingga oranye, tanaman tumbuh kerdil, jumlah anakan berkurang, serta malai pendek dan tidak terisi sempurna.
“Jika tidak dikendalikan dengan baik, tungro dapat menurunkan hasil panen secara signifikan bahkan menyebabkan gagal panen. Karena itu, pengendalian harus dilakukan secara terpadu mulai dari pengamatan rutin, pengendalian vektor, penggunaan varietas tahan, hingga pola tanam serempak,” tegasnya.
Sementara itu, Kepala Desa Cikaso, Hidayat Noor, mengapresiasi langkah cepat Diskatan Kuningan dalam mendampingi petani di wilayahnya.
“Kami mengucapkan terima kasih atas perhatian dan pendampingan yang terus diberikan. Semoga kolaborasi ini terus berlanjut demi peningkatan produksi pertanian dan kesejahteraan petani Desa Cikaso,” ucapnya.
Melalui gerakan pengendalian OPT yang cepat dan pendampingan berkelanjutan, Diskatan Kuningan optimistis produksi padi daerah dapat terus terjaga sebagai fondasi ketahanan pangan dan pencapaian surplus padi Kabupaten Kuningan pada 2026.
















