Bukan Sekadar Cerpen, Siswa SMPN 1 Jalaksana Titipkan Cerita di “Garis Waktu Kita”

KUNINGANSATU.COM – SMPN 1 Jalaksana, Kabupaten Kuningan, meluncurkan antologi cerpen karya siswa berjudul Garis Waktu Kita, Rabu (28/10/2026). Peluncuran tersebut menjadi bagian dari rangkaian Dies Natalis dan Festival Panen Hasil Belajar Siswa sekaligus memperingati Bulan Bahasa dengan mengusung semangat penguatan budaya literasi di lingkungan sekolah.

Antologi yang memuat karya sejumlah siswa dan siswi terpilih itu tidak sekadar menjadi hasil dari kegiatan menulis, tetapi juga menjadi ruang bagi peserta didik untuk menuangkan pengalaman, imajinasi, gagasan, kegelisahan serta cara pandang mereka terhadap lingkungan dan kehidupan di sekitarnya.

Kegiatan tersebut turut dihadiri Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Kuningan, Dr. Elon Carlan, M.Pd., yang menekankan pentingnya keteladanan guru dalam membangun budaya literasi di sekolah.

“Gerakan literasi perlu tumbuh melalui keteladanan. Kebiasaan membaca dan menulis yang dibangun oleh para guru diharapkan menjadi contoh nyata yang kemudian diikuti oleh para siswa hingga berkembang menjadi budaya,” ujar Elon.

Menurutnya, budaya literasi tidak cukup dibangun melalui instruksi, slogan maupun kewajiban membaca semata. Anak-anak membutuhkan lingkungan yang memperlihatkan secara langsung bahwa membaca dan menulis merupakan bagian dari kehidupan.

“Guru yang membaca, guru yang menulis, serta guru yang berani menerbitkan karya sedang memberikan pelajaran yang tidak selalu dapat disampaikan melalui ceramah,” ungkapnya.

Keteladanan tersebut membuat siswa tidak hanya diminta menghasilkan karya, tetapi juga menyaksikan bahwa para guru yang membimbing mereka terus belajar, berpikir dan berkarya.

Kepala SMPN 1 Jalaksana, Hj. Elin Linawati, M.M.Pd., mengatakan peluncuran antologi tersebut menjadi ruang bagi siswa untuk mengungkapkan ide, gagasan, pikiran dan perasaan melalui kalimat yang kemudian disusun menjadi sebuah cerita.

“Peluncuran antologi ini menjadi ruang bagi siswa untuk mengungkapkan ide, gagasan, pikiran dan perasaan melalui kalimat-kalimat yang tersusun menjadi cerita,” kata Elin.

Menurutnya, ruang tersebut penting karena tidak semua anak mampu mengungkapkan isi pikirannya secara lisan. Sebagian siswa justru dapat menyampaikan pengalaman dan perasaannya melalui cerita, tokoh fiksi, konflik maupun akhir cerita yang mereka bangun.

Dalam proses menulis, siswa juga belajar bahwa sebuah gagasan perlu diolah, sebuah peristiwa dapat dilihat dari berbagai sudut pandang dan sebuah kalimat harus dipertimbangkan sebelum disampaikan kepada pembaca.

Proses tersebut sekaligus mempertemukan kegiatan literasi dengan kemampuan berpikir kritis, kreativitas, empati dan tanggung jawab.

Antologi Garis Waktu Kita karena itu tidak sekadar menjadi kumpulan cerpen yang diluncurkan dalam sebuah kegiatan sekolah. Buku tersebut menjadi jejak proses belajar sekaligus bentuk apresiasi terhadap potensi intelektual dan daya cipta siswa.

Dalam kesempatan yang sama, turut diluncurkan antologi cerpen karya Kepala SMPN 1 Jalaksana, Hj. Elin Linawati, M.M.Pd. Selain itu, diperkenalkan pula karya para guru yang telah terbit dalam antologi puisi, di antaranya karya Sri Neneng dan Lia Setiawati.

Kehadiran karya guru di tengah perayaan literasi siswa menghadirkan pesan bahwa proses belajar tidak mengenal batas usia, jabatan maupun posisi seseorang di dalam kelas.

Ketika kepala sekolah dan guru turut menulis, hubungan antara pengajar dan peserta didik memperoleh dimensi baru. Guru tidak hanya berdiri sebagai pemberi tugas, tetapi juga sebagai sesama pembelajar yang mengalami proses mencari kata, menyusun gagasan, melakukan revisi hingga menyelesaikan sebuah karya.

“Keteladanan tidak lahir dari nasihat panjang, tetapi dari tindakan nyata. Siswa dapat melihat bahwa menulis bukan pekerjaan yang hanya dibebankan kepada mereka, melainkan kegiatan intelektual yang juga dijalani oleh orang-orang yang membimbingnya,” ujar Sri Neneng, Guru Bahasa Indonesia sekaligus Kepala Perpustakaan SMPN 1 Jalaksana.

Penerbitan karya guru dan siswa juga diharapkan menjadi pintu masuk untuk membangun ekosistem literasi di lingkungan sekolah.

Buku-buku yang lahir dari lingkungan pendidikan tidak semestinya berhenti sebagai dokumentasi kegiatan atau pelengkap laporan tahunan. Karya tersebut perlu dibaca, didiskusikan, dikritisi dan menjadi bahan pembelajaran bagi warga sekolah.

Peluncuran buku menjadi capaian yang patut diapresiasi, namun ukuran keberhasilan gerakan literasi tidak berhenti pada seremoni, dokumentasi maupun jumlah judul yang diterbitkan.

Setelah kegiatan tersebut, siswa diharapkan semakin gemar membaca dan mampu memahami isi bacaan, menyimpulkan gagasan utama, menyusun argumen serta mengungkapkan pikiran secara runtut.

“Kegiatan menulis diharapkan menjadi kebiasaan yang terus tumbuh di tahun-tahun yang akan datang,” kata Sri Neneng.

Literasi membutuhkan kesinambungan. Perpustakaan perlu menjadi ruang yang hidup, karya siswa perlu mendapatkan pembaca, guru perlu terus menghadirkan contoh nyata dan kegiatan membaca serta menulis perlu terintegrasi dengan pembelajaran sehari-hari.

Siswa juga perlu mendapatkan pendampingan agar mampu membedakan fakta dan opini, memahami informasi secara kritis serta menggunakan bahasa secara bertanggung jawab.

Dengan demikian, keberhasilan gerakan literasi tidak hanya diukur dari lahirnya buku, tetapi juga dari perubahan cara siswa berpikir, membaca, berbicara dan memandang kehidupan.

Peluncuran Garis Waktu Kita, antologi cerpen karya siswa dan siswi terpilih SMPN 1 Jalaksana, serta pengenalan antologi puisi para guru menjadi penanda bahwa tradisi literasi dapat tumbuh ketika sekolah memberikan ruang sekaligus keteladanan.

Di balik lembaran buku, ada anak-anak yang sedang belajar mengenali dirinya. Ada guru yang terus berproses dan ada sekolah yang berupaya menjadikan pengetahuan bukan sekadar sesuatu yang dihafal, tetapi sesuatu yang diolah dan dibagikan.

Pada akhirnya, pendidikan tidak hanya bertugas menghasilkan siswa yang mampu menjawab soal dengan benar. Pendidikan juga perlu membentuk manusia yang mampu memahami persoalan, menghargai perbedaan, merasakan penderitaan orang lain dan menyampaikan kebenaran dengan bahasa yang beradab.

Sebab, sebuah cerita mungkin bermula dari imajinasi seorang siswa, tetapi maknanya dapat menjangkau pengalaman banyak orang. Sebuah puisi mungkin lahir dari perasaan seorang guru, tetapi pesannya dapat menyentuh pembaca yang tidak pernah dikenalnya.

Dari SMPN 1 Jalaksana, Garis Waktu Kita menjadi pengingat bahwa setiap anak memiliki cerita yang layak didengar. Tugas sekolah bukan menentukan cerita mana yang boleh hidup, melainkan membimbing mereka agar mampu menuliskannya dengan jujur, bernalar dan penuh tanggung jawab.

“Ketika membaca menjadi kebiasaan, menulis menjadi keberanian dan keteladanan menjadi budaya, literasi tidak lagi sekadar agenda Bulan Bahasa. Ia menjelma menjadi jalan panjang untuk menumbuhkan manusia yang berpikir merdeka dan tetap memiliki kepekaan terhadap sesamanya,” pungkas Sri Neneng.***

Deskripsi Iklan Anda

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Tutup