Literasi Bukan Cuma Baca Buku, Bupati Dian Ungkap Kemampuan yang Harus Dimiliki Generasi Muda
KUNINGANSATU.COM,- Bupati Kuningan Dr. H. Dian Rachmat Yanuar, M.Si., menegaskan bahwa literasi tidak boleh dimaknai sebatas kemampuan membaca dan menulis. Menurutnya, literasi menjadi bagian penting dalam membentuk pola pikir generasi muda agar mampu memahami informasi, memilah kebenaran, melahirkan gagasan hingga menciptakan perubahan.
Hal itu disampaikan Dian saat membuka secara resmi Festival Literasi Kabupaten Kuningan Tahun 2026 di Perpustakaan Umum Daerah Kuningan, Jalan Siliwangi No. 216 C, Purwawinangun, Kamis (8/10/2026).
Festival Literasi tahun ini mengusung tema “Tenggelam dalam Literasi, Terbit Generasi Berprestasi.” Kegiatan tersebut dihadiri Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Daerah Provinsi Jawa Barat H. Kusmana Hartadji, jajaran pemerintah daerah, pegiat literasi, guru, pustakawan, penulis, komunitas literasi, serta para pelajar dan generasi muda Kuningan.
Dalam sambutannya, Dian mengatakan pembangunan daerah tidak cukup hanya diwujudkan melalui pembangunan fisik seperti jalan, jembatan, gedung maupun infrastruktur lainnya.
Menurutnya, pembangunan yang berkelanjutan harus berjalan seimbang dengan pembangunan sumber daya manusia.
“Sejatinya membangun yang bagus adalah membangun yang seimbang, yang simultan fisik dan nonfisik. Bagi saya nonfisik titik sorotnya adalah menyiapkan sumber daya manusia dengan literasi yang baik,” ujar Dian.
Ia menjelaskan, literasi yang baik bukan sekadar aktivitas membaca atau menghafal. Lebih dari itu, masyarakat harus mampu memahami isi informasi, melihat perubahan yang terjadi, mengambil pelajaran, membedakan sesuatu yang baik dan buruk, serta berani melahirkan gagasan.
“Literasi itu bukan hanya membaca saja. Tapi bagaimana anak-anak kita memahami tentang isi dunia, perubahan apa yang terjadi, mengambil kebenaran, bisa mengambil sebuah kebijaksanaan, bisa memilah dan memilih mana yang baik mana yang buruk,” katanya.
Pesan tersebut dinilai semakin penting di tengah derasnya arus informasi melalui media sosial. Dian mengingatkan bahwa saat ini masyarakat tidak hanya menjadi penerima informasi, tetapi juga dapat dengan mudah memproduksi dan menyebarkan informasi.
Ia menyebut, sebuah peristiwa di daerah dapat dengan cepat diketahui masyarakat di berbagai belahan dunia hanya dalam hitungan detik.
“Sekarang bukan lagi bagaimana mendapatkan informasi, bagaimana kita mengakses informasi. Tetapi bagaimana membedakan informasi dengan pengetahuan, pengetahuan dengan kebijaksanaan, dan yang terpenting kebijaksanaan dengan kebenaran,” ucapnya.
Karena itu, Dian meminta generasi muda tidak hanya dibekali kemampuan membaca, menulis, berhitung maupun menggunakan teknologi. Mereka juga harus memiliki kemampuan untuk mencermati informasi, mengurai persoalan, menarik kesimpulan dan mengimplementasikan pengetahuan secara tepat.
“Anak-anak kita hari ini tidak hanya cukup dilatih untuk membaca saja, tapi untuk memahami, untuk mencermati, untuk mengurai, untuk mengambil sebuah kesimpulan,” tegasnya.
Dian juga memberikan perhatian khusus terhadap tema Festival Literasi Kabupaten Kuningan 2026. Ia menilai kalimat “Tenggelam dalam Literasi, Terbit Generasi Berprestasi” memiliki makna yang cukup dalam.
Menurutnya, kata “tenggelam” dalam tema tersebut bukan berarti kehilangan arah. Sebaliknya, masyarakat diajak menyelami ilmu pengetahuan, pengalaman, budaya hingga berbagai persoalan yang ada di tengah masyarakat secara lebih mendalam.
“Ketika kita menyelami ilmu, menyelami pengalaman, menyelami budaya, menyelami persoalan-persoalan di masyarakat, ketika orang berani lebih dalam menyelam, ini pasti akan lebih paham,” katanya.
Dari pemahaman tersebut, lanjut Dian, akan lahir gagasan. Dari gagasan kemudian lahir karya, dan dari karya dapat muncul prestasi.
“Dari pemahaman itu lahir gagasan. Dari gagasan lahir karya. Dari karya lahir prestasi. Dari prestasi lahir sebuah generasi yang paham tentang harus berbuat apa untuk memberikan manfaat bagi orang lain,” tuturnya.
Ia pun mengajak seluruh elemen masyarakat menjadikan budaya literasi sebagai kebiasaan, bukan hanya di sekolah, tetapi juga di lingkungan keluarga.
Menurut Dian, orang tua memiliki peran penting dalam memberikan contoh kepada anak. Kebiasaan membaca dan belajar akan lebih mudah tumbuh apabila anak melihat langsung orang tuanya melakukan hal yang sama.
“Kalau hari ini sebagai pemimpin, kepala dinas, camat, kepala bidang, diskusi dengan generasi milenial dan generasi Z, kita tidak mau dibohongi oleh staf kita. Itu memotivasi saya untuk membaca,” ujarnya.
Dian juga menceritakan kebiasaannya mengajak anak-anak membaca buku sejak kecil. Menurutnya, kecintaan terhadap buku perlu ditanamkan melalui kebiasaan sederhana dan dilakukan secara konsisten.
Lebih jauh, Dian menegaskan bahwa tujuan utama penguatan literasi bukan sekadar menciptakan generasi yang pintar secara akademis.
Pemerintah, kata dia, ingin membangun generasi yang memiliki karakter, mampu berpikir kritis, kreatif, berdaya cipta, mampu berkolaborasi dan menghasilkan karya.
“Hari ini kita tidak sedang membangun generasi yang pintar. Kita sedang membangun generasi yang berkarakter, cerdas berpikir, berdaya cipta, berkreasi dan berprestasi,” katanya.
Dian kemudian mencontohkan Singapura yang menurutnya mampu berkembang pesat meskipun tidak memiliki sumber daya alam sebesar negara lain. Menurut dia, kekuatan sumber daya manusia dan kemampuan generasi mudanya menjadi salah satu faktor penting dalam kemajuan negara tersebut.
“Anak-anak mudanya dari awal sudah berpikir kreatif, punya literasi yang kuat, punya jiwa kolaborasi, punya kemampuan berbahasa dan literasi ekonomi finansial yang kuat,” ujarnya.
Hal tersebut, kata Dian, menjadi motivasi bagi Kuningan untuk terus meningkatkan kualitas sumber daya manusia.
Ia meyakini generasi muda Kuningan nantinya akan menjadi penerus kepemimpinan di berbagai bidang.
“Besok lusa Pak Ucu mau pensiun, saya pensiun, semua pensiun, akan digantikan oleh anak-anak kita di Kuningan. Siapa lagi kalau bukan anak-anak yang punya literasi yang bagus, literasi yang kuat,” katanya.
Dian juga menyampaikan optimismenya terhadap perkembangan sejumlah indikator pembangunan Kuningan. Ia menyebut pertumbuhan ekonomi, kemiskinan, pengangguran dan PDRB menunjukkan perkembangan yang semakin baik.
Menurutnya, peningkatan kualitas sumber daya manusia melalui budaya literasi harus berjalan beriringan dengan pembangunan ekonomi dan berbagai sektor lainnya.
Di akhir sambutannya, Dian mengajak masyarakat Kuningan untuk menjadikan Festival Literasi 2026 sebagai momentum memperkuat budaya membaca, belajar dan berkarya.
“Teruslah membaca, teruslah belajar, teruslah berkarya. Terus berani menggagas ide-ide yang memberikan manfaat bagi kita semua,” ucapnya.
Ia kemudian secara resmi membuka Festival Literasi Kabupaten Kuningan Tahun 2026 dengan melepaskan burung merpati.
“Dengan ucapan bismillahirrahmanirrahim, Festival Literasi Kabupaten Kuningan Tahun 2026 dengan tema ‘Tenggelam dalam Literasi, Terbit Generasi Berprestasi’ secara resmi saya nyatakan dimulai,” pungkasnya.















