Diskatan Kuningan Tekankan Akurasi Data Demi Kejar Target LTT Padi 2026

KUNINGANSATU.COM,- Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (Diskatan) Kabupaten Kuningan, Dr. Wahyu Hidayah, M.Si, menegaskan bahwa keberhasilan pencapaian target Luas Tambah Tanam (LTT) padi tahun 2026 sangat ditentukan oleh akurasi data lapangan, meskipun dukungan lahan dan alat mesin pertanian (alsintan) telah tersedia.

Penegasan tersebut disampaikan Wahyu saat membuka Rapat Koordinasi (Rakor) LTT Padi 2026 yang digelar Diskatan Kabupaten Kuningan, Selasa (27/1/2026), di Aula Diskatan Kuningan. Kegiatan ini diikuti jajaran struktural Diskatan, UPTD, penanggung jawab data, serta para penyuluh pertanian di seluruh wilayah Kabupaten Kuningan.

Menurut Wahyu, LTT merupakan indikator utama dalam mengukur produksi padi. Karena itu, ketidaktepatan data berpotensi melahirkan kebijakan yang tidak sesuai dengan kondisi riil di lapangan.

“LTT adalah indikator kunci produksi padi. Kalau datanya tidak akurat, kebijakan bisa salah sasaran. Data yang dilaporkan harus benar-benar mencerminkan kondisi lapangan,” tegasnya.

Pada Januari 2026, target LTT padi Kabupaten Kuningan ditetapkan seluas 6.550 hektare. Berdasarkan hasil pemetaan dan validasi lapangan, potensi riil lahan yang dapat dioptimalkan tercatat 4.394 hektare, dengan realisasi sementara mencapai 3.905 hektare.

Wahyu menjelaskan, penetapan target di atas potensi riil bukan bentuk kekeliruan perencanaan, melainkan strategi untuk mendorong kinerja maksimal seluruh jajaran di lapangan.

“Target harus memacu kerja. Kita optimalkan seluruh peluang tanam agar realisasi bisa melampaui potensi yang terpetakan,” ujarnya.

Rakor LTT padi ini sekaligus menjadi forum evaluasi menjelang tutup buku Januari 2026. Apabila target belum sepenuhnya tercapai hingga akhir bulan, sisa kekurangan akan diakumulasikan sebagai tambahan target pada Februari 2026.

“Progresnya cukup baik, tapi belum waktunya berpuas diri. Masih ada ruang yang harus kita kejar, terutama di wilayah potensial yang belum tergarap optimal. Kuncinya ada pada kecepatan tanam, ketepatan intervensi, dan keakuratan data,” kata Wahyu.

Ia juga menjelaskan bahwa data realisasi LTT dihimpun langsung oleh penyuluh pertanian dari tingkat petani dan kelompok tani, diverifikasi di wilayah masing-masing, lalu dilaporkan melalui sistem pelaporan Kementerian Pertanian yang terintegrasi secara nasional.

“Data dari daerah menjadi dasar laporan nasional hingga ke Menteri Pertanian. Karena itu, ketepatan waktu dan validitas data adalah tanggung jawab bersama,” tambahnya.

Selain penguatan tata kelola data, Diskatan Kuningan juga mendorong percepatan LTT melalui mekanisasi pertanian. Dukungan alsintan diharapkan mampu mempercepat olah tanah, memperluas areal tanam, serta menekan keterlambatan musim tanam.

“Dengan alsintan, kita ingin memastikan tidak ada lahan potensial yang terlambat atau tidak tertanami. Mekanisasi adalah kunci efisiensi dan percepatan tanam,” jelasnya.

Dalam kesempatan tersebut, Wahyu juga mengingatkan jajaran agar lebih cermat dalam pengusulan Calon Petani dan Calon Lokasi (CPCL) penerima bantuan pemerintah. Usulan harus berbasis kebutuhan riil, tepat sasaran, dan sesuai potensi wilayah.

“Tidak hanya padi sawah, tetapi juga optimalisasi lahan kering dan tadah hujan serta pengembangan komoditas pendukung bernilai ekonomi. Semua harus direncanakan berbasis data dan perhitungan matang,” pungkasnya.

Melalui Rakor LTT Padi 2026, Diskatan Kabupaten Kuningan berharap terbangun sinergi kuat antara pemerintah daerah, penyuluh, dan petani, sehingga target LTT dapat tercapai secara optimal dan berkontribusi nyata terhadap ketahanan pangan nasional.

Deskripsi Iklan Anda

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Tutup