Wow! Pemilik Dapur MBG di Kuningan Bisa Raup Ratusan Juta per Bulan, Modalnya Nyampe Miliar!

KUNINGANSATU.COM,- Program Makan Bergizi Gratis (MBG) tidak hanya membawa manfaat bagi ribuan siswa sekolah yang mendapat jaminan makanan sehat setiap hari, tetapi juga menghidupkan peluang usaha baru bagi pemilik dapur yang digandeng pemerintah sebagai mitra. Di Kabupaten Kuningan, salah seorang pemilik dapur MBG menuturkan bahwa dari skema kerja sama yang ada, ia menerima imbalan sebesar Rp2 ribu per porsi.

“Rp2 ribu itu bukan keuntungan murni, melainkan biaya sewa dapur beserta peralatan masak yang kami sediakan. Jadi pihak pelaksana MBG menggunakan tempat dan fasilitas kami, sementara untuk bahan makanan, gaji pekerja, dan biaya operasional ditanggung oleh mereka,” jelasnya, Kamis (25/9/2025).

Dengan hitungan sederhana, satu dapur MBG yang melayani minimal 3.000 siswa per hari berarti menghasilkan Rp6 juta per hari dari biaya sewa tersebut. Jika dikalikan dengan 20 hari efektif sekolah dalam sebulan, maka potensi pemasukan pemilik dapur mencapai Rp120 juta per bulan. Angka itu, menurutnya, cukup menjanjikan bagi siapa pun yang memiliki sarana dapur skala besar.

Namun, ia menekankan bahwa jumlah tersebut tidak semuanya bisa disebut “bersih” untuk pemilik. Ada banyak pos pengeluaran yang harus ditanggung secara mandiri, mulai dari perawatan fasilitas dapur, perbaikan peralatan yang rusak, biaya listrik, air, hingga kebutuhan pendukung lain yang tidak jarang membengkak.

“Kadang kompor besar cepat aus, panci penyok, listrik melonjak karena mesin pendingin, itu semua tetap tanggung jawab kami,” ujarnya menambahkan.

Lebih jauh, ia menjelaskan bahwa sejak awal, ia berkomitmen untuk merekrut tenaga kerja dari lingkungan sekitar.

“Untuk tenaga kerja, mayoritas kami rekrut dari warga sekitar dapur. Ada yang jadi juru masak, ada yang mengemas, ada juga yang membantu kebersihan. Bagi saya ini bentuk kontribusi nyata agar tetangga juga ikut merasakan manfaat langsung dari keberadaan dapur MBG,” katanya.

Efek domino dari keberadaan dapur MBG pun mulai terasa. Satu dapur rata-rata bisa melibatkan 50 orang pekerja harian, dan setiap dapur juga menggandeng setidaknya 15 pemasok bahan pangan dari desa sekitar. Dari petani sayur, pedagang beras, peternak ayam, hingga pengepul telur, semua ikut terdorong usahanya.

“Program ini akhirnya menghidupkan ekonomi perdesaan. Ada banyak pihak yang ikut merasakan manfaatnya, bukan hanya pemilik dapur, tapi juga pekerja harian dan supplier bahan makanan,” sambungnya.

Dengan pola seperti itu, program MBG di Kuningan dipandang bukan hanya soal gizi anak sekolah, melainkan juga sebagai instrumen penggerak ekonomi desa. Bahkan, tidak sedikit warga yang sebelumnya menganggur kini mendapatkan penghasilan tetap sebagai bagian dari dapur MBG.

Ketika ditanya berapa besar modal yang dibutuhkan untuk membangun sebuah dapur MBG lengkap dengan fasilitas standar, ia hanya tersenyum lebar.

“Ya pokoknya segitu lah, nyampe M untuk satu dapur… hehe,” ujarnya sambil tertawa kecil.

Pernyataan itu seolah menegaskan bahwa investasi dapur MBG bukan perkara kecil, melainkan membutuhkan modal besar yang hanya bisa dijalankan oleh mereka yang benar-benar siap dengan sarana dan prasarana lengkap.***

Deskripsi Iklan Anda

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Tutup