Pemuda Lintas Iman Keluarkan Pernyataan Sikap: Mari Kita Jaga Indonesia

KUNINGANSATU.COM,- Di tengah riuhnya aksi demonstrasi di berbagai daerah, sembilan organisasi pemuda dari latar belakang iman yang berbeda memilih duduk bersama. Mereka datang dari jalan spiritual yang beragam, Islam, Kristen, Katolik, Hindu, Buddha, Konghucu namun suara yang mereka keluarkan sama yaitu Mari Kita #JagaIndonesia.
Hari itu, Minggu (31/8/2025), wajah-wajah serius para pemuda ini berjejer rapi. Nama-nama seperti Dzulfikar Ahmad Tawalla dari Pemuda Muhammadiyah, Addin Jauharuddin dari GP Ansor, Stefanus Gusma dari Pemuda Katolik, Sahat Martin Philip Sinurat dari GAMKI, hingga Kris Tan dari Pemuda Khonghucu, menyatu dalam satu dokumen yang berisi tujuh poin sikap.
Kalimat pertama yang mereka suarakan adalah ungkapan simpati dan duka cita. Mereka menyebut korban yang terluka maupun meninggal dunia dalam aksi demonstrasi sebagai bagian dari luka bangsa. “Menyampaikan simpati dan dukacita yang mendalam,” tulis mereka, menegaskan empati bukan hanya milik satu kelompok, melainkan tanggung jawab bersama.
Namun mereka tidak berhenti di situ. Dalam poin berikutnya, suara tegas diarahkan kepada pemerintah dan DPR. Para pemuda lintas iman ini meminta para pengambil kebijakan untuk sungguh-sungguh mendengar tuntutan rakyat dan mengevaluasi program yang justru membebani masyarakat. Bagi mereka, politik tidak boleh hanya tentang kekuasaan, tetapi tentang hati yang berpihak pada rakyat.

Kepada partai politik, seruan lebih keras lagi disampaikan. Mereka mendesak agar anggota DPR maupun pengurus partai yang melontarkan pernyataan provokatif segera diberhentikan. Mereka menuntut para kader menjaga ucapan, menahan diri, dan lebih berempati. Karena bagi para pemuda ini, kata-kata bisa menyembuhkan, tapi juga bisa melukai hati rakyat.
Di sisi lain, mereka menaruh harapan besar pada masyarakat. Aksi menyampaikan aspirasi harus dijaga agar tetap kondusif. Mereka menolak keras segala bentuk anarkisme dan perusakan, pembakaran, penjarahan dan yang merugikan sesama. Lebih dari itu, mereka juga mengingatkan agar bangsa ini tidak lagi terjebak pada isu-isu SARA yang bisa memecah belah, seperti yang pernah menorehkan luka mendalam pada 1998.
Kepada Polri dan TNI, nada mereka penuh keseimbangan yaitu jaga keamanan secara terukur, jangan represif terhadap aksi damai, tetapi tindak tegas siapa pun yang menebar anarki. Bagi mereka, keamanan bukanlah sekadar barikade, melainkan perlindungan bagi rakyat untuk tetap merasa aman menyuarakan suara hati.
Di akhir, mereka meneguhkan kembali jati diri sebagai anak bangsa. Para kader diminta hadir di tengah masyarakat, bergotong-royong, membangun dialog dengan tokoh agama, tokoh masyarakat, dan semua elemen bangsa. Mereka diajak menjaga fasilitas umum, membantu warga yang kesulitan, dan merawat ruang sosial yang jadi rumah bersama.
Sembilan tandatangan yang tertera dalam dokumen itu mulai dari Pemuda Muhammadiyah, GP Ansor, Pemuda Katolik, GAMKI, Gemabudhi, Peradah, Gema Khonghucu, GPII, hingga Mathla’ul Anwar bukan sekadar formalitas. Itu adalah tanda bahwa di atas segala perbedaan iman, ada cinta yang sama untuk negeri ini.


















