Banjir Informasi Makin Deras, Fina Fauziyah Ajak Generasi Muda Perkuat Literasi

KUNINGANSATU.COM – Di tengah derasnya arus informasi yang mengalir melalui media sosial dan berbagai platform digital, budaya literasi di kalangan mahasiswa dinilai semakin penting untuk diperkuat. Mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (PBSI) Universitas Kuningan, Fina Fauziyah Amijaya, menilai kemampuan literasi tidak lagi sebatas membaca dan menulis, tetapi juga menjadi kemampuan dasar untuk berpikir kritis, memahami konteks, serta memverifikasi informasi sebelum mempercayai atau menyebarkannya.

Saat dimintai tanggapannya oleh kuningansatu.com, Senin (6/7/2026) Fina mengatakan perkembangan teknologi telah memberikan kemudahan bagi siapa saja untuk mengakses informasi. Namun, kemudahan tersebut juga membawa konsekuensi berupa banjir informasi yang tidak semuanya dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya.

“Hari ini kita hidup di era ketika informasi datang setiap detik melalui media sosial, aplikasi pesan instan, hingga berbagai platform digital. Sayangnya, tidak semua informasi yang kita terima adalah fakta. Banyak hoaks, disinformasi, bahkan opini yang dikemas seolah-olah menjadi sebuah kebenaran. Kondisi ini menuntut mahasiswa untuk memiliki kemampuan literasi yang lebih kuat,” ujar mahasiswi semester 4 ini.

Menurut Fina, mahasiswa sebagai insan akademik memiliki tanggung jawab moral untuk tidak mudah terpengaruh oleh narasi yang provokatif maupun informasi yang belum terverifikasi. Baginya, tradisi berpikir ilmiah yang dibangun di perguruan tinggi harus menjadi bekal dalam menyikapi berbagai isu yang berkembang di masyarakat.

“Mahasiswa tidak boleh mudah percaya hanya karena sebuah informasi sedang viral atau banyak dibagikan. Kita harus membiasakan diri mencari sumber yang kredibel, membaca secara utuh, memahami konteksnya, lalu menganalisis sebelum mengambil kesimpulan. Itulah esensi literasi yang sesungguhnya,” katanya.

Sebagai mahasiswa PBSI, Fina mengaku perkuliahan yang dijalaninya memberikan pemahaman bahwa bahasa memiliki kekuatan besar dalam membentuk cara berpikir masyarakat. Karena itu, penggunaan bahasa yang tepat, santun, dan bertanggung jawab menjadi bagian dari upaya membangun ruang publik yang sehat.

“Di PBSI kami belajar bahwa bahasa bukan sekadar alat komunikasi. Bahasa dapat memengaruhi cara orang berpikir, bersikap, bahkan mengambil keputusan. Oleh karena itu, mahasiswa harus mampu menggunakan bahasa secara bijak, tidak menyebarkan ujaran kebencian, tidak memprovokasi, dan tidak memperkeruh keadaan melalui informasi yang belum jelas kebenarannya,” tuturnya.

Fina juga menyoroti fenomena menurunnya minat membaca secara mendalam di kalangan generasi muda. Menurutnya, banyak orang kini lebih terbiasa membaca potongan informasi, judul, atau cuplikan video berdurasi singkat tanpa memahami isi secara menyeluruh. Kebiasaan tersebut, kata dia, berpotensi melahirkan kesalahpahaman dan penilaian yang tergesa-gesa.

“Kita sering melihat orang langsung berkomentar hanya karena membaca judul atau potongan video beberapa detik. Padahal, sebuah informasi harus dipahami secara utuh agar tidak menimbulkan salah persepsi. Karena itu, budaya membaca secara mendalam harus terus dibangun, terutama di lingkungan kampus,” jelasnya.

Lebih lanjut, ia menilai Universitas Kuningan memiliki peran strategis dalam menumbuhkan ekosistem literasi melalui diskusi ilmiah, seminar, penelitian, organisasi kemahasiswaan, hingga publikasi karya tulis. Menurutnya, kampus bukan hanya tempat memperoleh gelar akademik, tetapi juga ruang untuk membentuk karakter intelektual yang kritis dan berintegritas.

“Kampus harus menjadi ruang yang membiasakan mahasiswa berdialog, berdiskusi, menulis, dan menyampaikan gagasan berdasarkan data serta argumentasi yang kuat. Dengan begitu, mahasiswa tidak hanya menjadi penerima informasi, tetapi juga mampu menghasilkan gagasan yang bermanfaat bagi masyarakat,” ucapnya.

Di akhir pernyataannya, Fina mengajak seluruh mahasiswa Universitas Kuningan untuk menjadikan literasi sebagai budaya sehari-hari, bukan hanya ketika mengerjakan tugas atau menghadapi ujian.

“Saya berharap mahasiswa Universitas Kuningan terus menumbuhkan budaya membaca, menulis, berdiskusi, dan berpikir kritis. Di tengah derasnya arus informasi seperti sekarang, literasi adalah benteng yang menjaga kita agar tidak mudah terprovokasi, tidak mudah terpecah oleh informasi yang menyesatkan, dan mampu memberikan kontribusi positif bagi masyarakat. Mahasiswa harus menjadi bagian dari solusi dengan menghadirkan gagasan yang mencerahkan, bukan justru memperkeruh ruang publik,” pungkasnya.***

Deskripsi Iklan Anda

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Tutup