Tradisi yang Tak Lekang Zaman! Babarit Desa Sagarahiang Terus Dijaga di Tengah Modernisasi
KUNINGANSATU.COM,- Milangkala ke-654 Desa Sagarahiang, Kecamatan Darma, menjadi momentum memperkuat jati diri budaya masyarakat melalui Tradisi Babarit Desa yang digelar pada Minggu (28/6/2026) malam. Di tengah arus modernisasi, tradisi turun-temurun itu tetap lestari dengan menyampaikan pesan kehidupan melalui tujuh kawih warisan para karuhun.
Suasana halaman Balai Desa Sagarahiang dipenuhi masyarakat yang antusias menyaksikan prosesi adat. Alunan gamelan, tarian tradisional, hingga tata panggung yang didukung videotron dan sistem suara modern membuat pelaksanaan Babarit tetap mempertahankan nilai sakral tanpa meninggalkan sentuhan teknologi.
Tradisi tersebut menjadi ungkapan rasa syukur kepada Allah SWT atas berbagai nikmat yang diberikan sekaligus penghormatan kepada para leluhur yang telah mewariskan budaya dan nilai kehidupan bagi masyarakat.
Tokoh Desa Sagarahiang, Sukana, mengatakan Milangkala Desa bukan hanya seremoni tahunan, tetapi juga bentuk syukur atas keberkahan yang dirasakan masyarakat serta komitmen menjaga warisan budaya.
“Melalui kegiatan ini kami menghormati jasa para karuhun yang telah meninggalkan banyak kebaikan bagi Desa Sagarahiang. Ini juga menjadi ikhtiar agar nilai-nilai luhur tetap hidup di tengah masyarakat,” ujarnya.
Ia menjelaskan, terdapat tujuh kawih yang menjadi inti pesan dalam Tradisi Babarit. Kawih Sanggolewang mengajarkan kekhusyukan beribadah kepada Allah SWT. Sali Asih mengandung nilai silih asih, saling menjaga, dan saling menolong. Tunggul Kawung mengingatkan pentingnya keteguhan dalam menjalani kehidupan.
Sementara itu, Engko mengajarkan kesederhanaan, Panangis mengingatkan manusia agar tabah menghadapi berbagai ujian hidup, Goyong-goyong menanamkan semangat gotong royong, sedangkan Raja Pulang mengajarkan pentingnya meninggalkan jejak kebaikan yang akan dikenang setelah seseorang tiada.
Dalam sambutan Bupati Kuningan Dr. H. Dian Rachmat Yanuar, M.Si., yang dibacakan Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (DPMD) Rangga Apriatna, S.STP., M.AP., disampaikan bahwa kemajuan desa harus tetap berpijak pada akar budaya dan sejarah yang dimiliki.
Menurutnya, Tradisi Babarit merupakan wujud rasa syukur kepada Allah SWT atas keselamatan, hasil bumi, dan keberkahan yang diterima masyarakat, sekaligus pengingat bahwa manusia memiliki tanggung jawab menjaga hubungan dengan Tuhan, sesama manusia, dan alam.
“Rasa syukur adalah sumber keberkahan, sedangkan kebersamaan menjadi fondasi kemajuan desa. Nilai-nilai inilah yang harus terus dipertahankan dalam menghadapi perkembangan zaman,” demikian isi sambutan tersebut.
Pemerintah Kabupaten Kuningan berharap Milangkala ke-654 Desa Sagarahiang menjadi semangat baru untuk membangun desa yang mandiri, religius, sejahtera, serta tetap melestarikan budaya lokal. Masyarakat juga diajak terus menjaga persatuan, menghidupkan gotong royong, memelihara keamanan dan kebersihan lingkungan, serta berpartisipasi aktif dalam pembangunan desa.
















