Perbaikan Pendidikan, Langkah Pasti Menuju Indonesia Emas 2045
KUNINGANSATU.COM – Perbaikan sektor pendidikan dinilai menjadi langkah paling mendasar dalam mewujudkan visi Indonesia Emas 2045. Hal tersebut disampaikan oleh Yoga Sunandar, mahasiswa Universitas Muhammadiyah Kuningan, dalam pandangan opininya terkait masa depan pendidikan nasional.
Menurut Yoga, berbicara mengenai inovasi dan produktivitas tanpa menempatkan pendidikan sebagai fondasi utama merupakan kekeliruan besar. Ia menegaskan bahwa pendidikan adalah kunci dalam mencetak generasi yang inovatif, produktif, serta memiliki daya saing tinggi di tengah tantangan global.
“Pendidikan bukan hanya milik kalangan akademisi, tetapi menjadi dasar lahirnya para pengusaha, ekonom, dan profesional yang berperan dalam pembangunan bangsa. Tanpa pendidikan yang baik, sulit membayangkan kemajuan yang berkelanjutan,” ujarnya, Sabtu (2/5/2026).
Yoga menjelaskan, seorang pengusaha tidak cukup hanya mengandalkan modal finansial, tetapi juga membutuhkan pengetahuan, kemampuan analisis, serta visi yang terbentuk dari proses pendidikan. Hal serupa juga berlaku bagi para ekonom yang merumuskan arah kebijakan pembangunan.
Lebih lanjut, ia menyoroti pentingnya penguatan pendidikan vokasi di Indonesia. Menurutnya, pendidikan vokasi harus dirancang lebih praktis dan relevan dengan kebutuhan industri agar mampu menjawab persoalan kesenjangan keterampilan (skill gap) yang masih terjadi.
“Kita bisa belajar dari negara seperti Jerman dan Korea Selatan yang berhasil mengintegrasikan pendidikan vokasi dengan kebutuhan industri. Lulusannya tidak hanya unggul secara teori, tetapi juga siap kerja,” katanya.
Selain itu, Yoga juga menekankan pentingnya peningkatan investasi dalam riset dan pengembangan (research and development) di perguruan tinggi. Ia menilai, riset merupakan fondasi utama lahirnya inovasi yang dapat mendorong kemajuan berbagai sektor.
“Perguruan tinggi harus menjadi pusat solusi atas persoalan sosial dan ekonomi. Namun, realitasnya budaya riset di Indonesia masih belum optimal, termasuk dari sisi anggaran yang masih terbatas,” jelasnya.
Di sisi lain, ia mengingatkan bahwa pendidikan tidak semata-mata berorientasi pada kecerdasan intelektual, tetapi juga harus menanamkan nilai-nilai karakter seperti etika, kesantunan, dan budi pekerti. Ia mengutip pernyataan Presiden yang pernah menyoroti mulai memudarnya budaya santun di tengah masyarakat.
“Ini menjadi pengingat bahwa pendidikan harus tetap menjaga identitas bangsa, tidak hanya mengejar kemajuan teknologi,” tambahnya.
Momentum , lanjut Yoga, seharusnya tidak hanya dimaknai sebagai seremoni tahunan, tetapi menjadi ajang refleksi bersama terhadap kualitas pendidikan nasional.
“Sudah sejauh mana pendidikan kita benar-benar menjadi fondasi kemajuan bangsa? Ini pertanyaan penting yang harus dijawab bersama,” tegasnya.
Yoga menutup pandangannya dengan menekankan bahwa keberhasilan Indonesia menuju 2045 sangat ditentukan oleh kualitas pendidikan yang dibangun saat ini.
“Jika kita serius ingin mencapai Indonesia Emas 2045, maka tidak ada pilihan lain selain membenahi pendidikan secara menyeluruh. Masa depan bangsa ditentukan oleh seberapa kuat fondasi pendidikan yang kita bangun hari ini,” pungkasnya.***

















