Klarifikasi SMAN 1 Cigugur Soal Isu Penjualan Seragam, Tekankan Pancawaluya dan Keterbukaan
KUNINGANSATU.COM,- Ramainya pemberitaan terkait dugaan praktik penjualan seragam di SMAN 1 Cigugur akhirnya mendapat tanggapan resmi dari pihak sekolah. Kepala Sekolah, Emay, S.Pd., M.Pd., menegaskan bahwa kabar tersebut tidak sepenuhnya benar dan perlu diluruskan agar masyarakat tidak salah menilai, apalagi jika diasumsikan sampai menentang himbauan Gubernur dan Disdik Jabar.
Kepala Sekolah SMAN 1 Cigugur, Emay, S.Pd., M.Pd., Sabtu (20/9/2025) menjelaskan bahwa selebaran yang beredar dan menimbulkan polemik bukanlah aturan yang dikeluarkan oleh pihak sekolah dan wajib dipatuhi. Menurutnya, item-item yang tercantum di dalamnya hanyalah bentuk penawaran dari pihak ketiga kepada orang tua tanpa ada kaitannya dengan pihak sekolah secara langsung.
Ia menegaskan, jika ada orang tua atau siswa yang ingin membeli seragam maupun perlengkapan sekolah dari penawaran tersebut, maka sekolah tidak pernah melarang begitupun sebaliknya. Dengan kata lain, tidak ada istilah pemaksaan ataupun kewajiban tunggal untuk membeli dari manapun.
Emay menyebut bahwa tujuan dari penyusunan selebaran tersebut oleh pihak ketiga mungkin adalah memberikan panduan umum mengenai kebutuhan siswa baru dan standar harga. Namun, ia juga menekankan bahwa panduan itu tidak memiliki kekuatan aturan yang mengikat.
“Selebaran itu sifatnya mungkin membantu orang tua agar tidak bingung khususnya kaitan dengan standar harganya. Jadi jangan sampai disalahartikan,” katanya.
Dengan penjelasan ini, Emay berharap masyarakat tidak lagi salah memahami isi selebaran sebagai bentuk praktik jual-beli yang dilarang oleh aturan pemerintah.
Sekolah Terbuka untuk Dialog dengan Orang Tua
Lebih lanjut, Emay menegaskan bahwa sekolah selalu terbuka untuk menerima masukan dari orang tua siswa. Ia mengajak semua pihak yang merasa keberatan atau terbebani dengan informasi yang ada agar langsung menyampaikannya ke pihak sekolah.
Menurutnya, komunikasi yang baik antara sekolah dan orang tua adalah kunci untuk menghindari kesalahpahaman. Dengan adanya ruang dialog, segala persoalan bisa dicarikan solusi bersama tanpa menimbulkan prasangka negatif.
“Kalau memang ada orang tua yang merasa keberatan, silakan sampaikan. Kami siap mendengarkan dan mencarikan jalan keluarnya. Tidak ada yang ditutup-tutupi,” ungkap Emay.
Ia menambahkan bahwa SMAN 1 Cigugur selama ini berkomitmen menjaga hubungan harmonis dengan para orang tua siswa. Transparansi dan keterbukaan selalu dijaga agar tidak ada pihak yang merasa dirugikan.
Dengan demikian, isu yang berkembang sebelumnya seolah sekolah menutup ruang komunikasi dianggap keliru. Justru pihak sekolah menegaskan diri sebagai lembaga yang terbuka dan siap berdialog.
Pancawaluya Sebagai Landasan Program
Emay juga menjelaskan bahwa dasar dari program yang dijalankan sekolah merujuk pada Gapura Panca Waluya, sebuah kebijakan penguatan karakter siswa yang digagas oleh Pemerintah Provinsi Jawa Barat.
Menurutnya, Pancawaluya mengajarkan lima nilai utama, yaitu Cageur (sehat jasmani dan rohani), Bageur (berakhlak baik), Bener (jujur dan berintegritas), Pinter (cerdas), dan Singer (terampil dan peduli lingkungan). Nilai-nilai ini menjadi pegangan sekolah dalam membina peserta didik.
“Esensi Pancawaluya bukan pada seragam atau atribut, tetapi pada pembentukan karakter siswa. Jadi jangan sampai keliru menilai,” tegas Emay.
Ia juga menambahkan bahwa kegiatan yang dilakukan sekolah merupakan satu bentuk dukungan terhadap implementasi Pancawaluya.
Dengan demikian, sekolah menegaskan bahwa seluruh aktivitas tetap berada dalam kerangka kebijakan pemerintah provinsi, bukan inisiatif sepihak yang bertentangan dengan aturan.
Aturan Disdik Jabar: Tidak Boleh Membebani Orang Tua
Dalam klarifikasinya, Emay mengingatkan bahwa sekolah tetap tunduk pada aturan yang berlaku. Ia menegaskan bahwa SMAN 1 Cigugur tidak mungkin melanggar pedoman yang telah dikeluarkan oleh Dinas Pendidikan Jawa Barat.
Sebagaimana tertuang dalam Pedoman MPLS Pancawaluya 2025, siswa tidak boleh dibebani dengan kewajiban membeli seragam atau atribut baru. Bahkan, pedoman tersebut memberikan kelonggaran bagi siswa untuk menggunakan seragam lama dari SMP atau seragam olahraga yang dimiliki sebelumnya.
“Dari aturan pun sudah jelas, sekolah negeri tidak boleh memperjualbelikan seragam dan atribut dengan cara memaksa. Kami di SMAN 1 Cigugur patuh pada aturan itu,” jelasnya.
Dengan penjelasan ini, ia berharap masyarakat bisa memahami bahwa SMAN 1 Cigugur tidak berusaha sedikitpun melanggar aturan Disdik Jabar, melainkan tetap konsisten menjalankan kebijakan yang ada.
Menepis Kesalahpahaman Publik
Emay menyadari bahwa pemberitaan sebelumnya bisa menimbulkan kesalahpahaman di tengah masyarakat. Karena itu, ia merasa penting untuk menyampaikan klarifikasi resmi agar masyarakat tidak hanya menerima informasi sepihak.
“Kalau hanya melihat satu sisi, tentu orang akan salah menilai. Padahal sekolah tidak pernah menjual, dan semua kegiatan tetap berjalan sesuai aturan,” ujarnya.
Ia juga menegaskan bahwa sekolah tidak pernah berorientasi pada bisnis atau jual-beli, melainkan pada misi pendidikan. Fokus utama sekolah adalah membentuk siswa berkarakter, bukan mencari keuntungan.
Menurut Emay, narasi yang menyebut sekolah seakan melawan himbauan gubernur dan aturan Disdik Jabar sama sekali tidak benar. Ia menekankan bahwa pihak sekolah tetap patuh dan konsisten dengan regulasi yang berlaku.
Dengan adanya klarifikasi ini, Emay berharap masyarakat bisa lebih objektif dalam menilai dan tidak mudah terpengaruh oleh informasi yang tidak lengkap.
Komitmen Membangun Karakter Tanpa Beban
Sebagai penutup, Emay kembali menegaskan bahwa SMAN 1 Cigugur berkomitmen penuh dalam mendidik siswa sesuai nilai-nilai Pancawaluya. Pendidikan berkarakter menjadi prioritas utama sekolah.
“Tujuan kami jelas, mendidik siswa agar sehat, berakhlak baik, jujur, cerdas, dan peduli. Itu jauh lebih penting dibandingkan persoalan seragam,” tegasnya.
Ia menambahkan, seluruh program sekolah akan selalu diarahkan untuk mendukung pengembangan potensi siswa tanpa membebani orang tua. Transparansi dan komunikasi akan tetap dijaga agar tidak menimbulkan prasangka negatif.
“Kalau ada yang merasa berat dalam hal apapun, kita carikan solusi bersama. Intinya pendidikan harus berjalan tanpa ada pihak yang merasa tertekan,” ujarnya.
Dengan begitu, SMAN 1 Cigugur berharap polemik yang sempat mencuat bisa segera mereda, dan masyarakat bisa kembali fokus pada tujuan utama pendidikan, yakni mencetak generasi unggul dan berkarakter. (*)















