Easga FC U-17 Juara Grup, Siap Tantang Bandung United

KUNINGANSATU.COM – Langkah Easga FC U-17 di Piala Soeratin Jawa Barat 2026 semakin jauh. Setelah melewati fase penyisihan dengan hasil impresif, tim yang dihuni 25 talenta muda Kuningan ini berhasil merebut status juara Grup D dan kini bersiap menghadapi Bandung United di babak 32 besar.

Perjalanan menuju posisi puncak Grup D diraih Easga FC melalui dua pertandingan yang berlangsung di Stadion Dejan, Kabupaten Bogor. Pada laga pertama, skuad muda Kuningan bermain imbang 1-1 saat menghadapi Brazilian Soccer School.

Easga FC kemudian bangkit dengan penampilan lebih meyakinkan. Menghadapi Cimahi Putra, tim besutan Coach Galih Kurniawan tersebut mencatat kemenangan telak 3-0.

Tambahan tiga poin membuat Easga FC mengoleksi empat poin dari dua pertandingan. Dengan keunggulan selisih gol, posisi puncak Grup D pun berhasil diamankan sekaligus mengantar mereka ke babak 32 besar.

Namun, perjalanan belum selesai. Di fase knock out, Easga FC akan berhadapan dengan Bandung United di Stadion Mini Cibinong, Kabupaten Bogor.

Kepala Pelatih Easga FC, Coach Galih Kurniawan, menyebut tim kini tengah mematangkan persiapan terakhir. Ia mengakui Bandung United merupakan salah satu tim kuat yang harus diwaspadai, tetapi tetap optimistis anak asuhnya mampu bersaing.

“Ini persiapan terakhir menjelang babak 32 besar Piala Soeratin Jawa Barat. Kami akan bertemu Bandung United, salah satu tim kuat di gelaran kali ini. Saya yakin anak-anak bisa bersaing karena kami sudah melakukan persiapan cukup lama dan insyaallah dalam kondisi fit untuk bertanding,” ujar Galih saat ditemui di homebase latihan Easga FC di Lapangan Ciloa, Kecamatan Kramatmulya, Kuningan, Selasa (25/8/2026).

Menariknya, mayoritas pemain Easga FC merupakan kelahiran 2010. Komposisi tersebut bukan sekadar untuk memenuhi kebutuhan kompetisi, tetapi juga menjadi bagian dari desain pembinaan jangka panjang.

Sementara pemain kelahiran 2009 diproyeksikan melanjutkan perjalanan karier ke sejumlah klub di luar Kuningan setelah kompetisi ini. Galih ingin para pemain muda tidak berhenti berkembang hanya karena sudah merasa cukup bagus di lingkungan sendiri.

Menurutnya, Kuningan memiliki stok talenta sepak bola usia muda yang melimpah. Tantangannya justru bagaimana membuat talenta tersebut berani keluar dari zona nyaman dan mencari pengalaman di level yang lebih tinggi.

“Anak-anak Kuningan tidak akan kehabisan talenta muda yang bagus. Talenta terbaik akan selalu datang. Hanya saja saya masih penasaran, pemain muda Kuningan jarang ada yang bisa keluar dari Kuningan. Ketika sudah bagus sedikit, anak-anak cepat tergoda dengan zona nyaman,” tuturnya.

Pandangan itulah yang kemudian menjadi salah satu alasan Galih membangun GSG Private. Program pembinaan ini tidak hanya berorientasi pada latihan rutin di lingkungan sendiri, tetapi juga mendorong pemain mengikuti berbagai turnamen di luar daerah.

Tujuannya sederhana, pemain harus terbiasa menghadapi lawan dengan karakter dan kualitas berbeda. Dari sanalah mental bertanding, pengalaman, sekaligus kemampuan pemain terus ditempa.

Untuk menghadapi Piala Soeratin, GSG Private berkolaborasi dengan Easga dan Kuningan United. Para pemain yang bergabung pun datang dari berbagai wilayah Kabupaten Kuningan, mulai dari Lebakwangi, Paniis Mandirancan, Japara hingga Darma.

“Kami rangkul anak-anak dari berbagai desa dan kecamatan karena mereka punya kemampuan dan potensi yang bisa kami maksimalkan,” kata Galih.

Pengalaman bertanding juga menjadi modal penting bagi Easga FC. Sejumlah pemain tercatat pernah tampil di ajang FJL Nasional, bahkan beberapa di antaranya sudah merasakan gelar juara.

Pada September mendatang, sebagian pemain Easga FC juga dijadwalkan mendapat undangan khusus mengikuti seri nasional FJL di Banjar Patroman.

Tidak berhenti di sana, terdapat pula pemain yang mengikuti pembinaan di Garuda Yaksa sebagai bagian dari persiapan menuju kompetisi EPA.

Pengalaman di berbagai ajang tersebut membuat skuad Easga FC memiliki jam terbang yang cukup sebelum memasuki fase 32 besar Piala Soeratin Jawa Barat.

Sejumlah pemain yang menjadi bagian dari skuad di antaranya Rafli Fadilah, Raditya Akbar, Zean, M. Robi, Messi Junior, Robi Geo, Dick, Willy, Adnan, Firdaus, Tibo, Hafiz, AF, Aloy, serta dua penjaga gawang M. Robi dan Rizki Ramadan.

Di luar lapangan, perjuangan Easga FC juga mendapatkan sokongan kuat dari para orang tua pemain.

Perwakilan orang tua atlet GSG Private, Abdul Haris SH, menyampaikan apresiasi kepada seluruh orang tua yang terus memberikan dukungan kepada putra-putra mereka selama mengikuti Piala Soeratin Jawa Barat.

Menurutnya, keberadaan Easga FC U-17 merupakan hasil kolaborasi GSG Private, orang tua atlet, dan Easga FC. Dukungan tersebut dilakukan secara mandiri tanpa menggunakan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah maupun sumber pembiayaan sejenis dari pemerintah.

“Terima kasih kepada para orang tua yang selama ini mendukung penuh putra mereka untuk Piala Soeratin. Kegiatan ini murni hasil kolaborasi GSG Private, orang tua, dan kerja sama dengan Easga FC. Tanpa biaya APBD dan sejenisnya,” ujar Abdul Haris.

Ia optimistis kolaborasi antara pelatih, pemain, orang tua dan pihak klub dapat terus berjalan hingga kompetisi berakhir.

Bagi Abdul Haris, proses pembinaan jauh lebih penting daripada sekadar melihat hasil akhir pertandingan. Anak-anak perlu mendapatkan pengalaman, membangun disiplin, meningkatkan kemampuan, sekaligus memiliki keberanian untuk bersaing dengan pemain dari daerah lain.

Ia juga menilai Coach Galih bersama jajaran pelatih telah memberikan ruang yang cukup bagi para pemain untuk berkembang melalui kompetisi di luar Kuningan.

“Kami optimistis anak-anak bersama Coach Galih bisa memberikan yang terbaik. Yang paling penting, para pemain mendapatkan pengalaman dan terus berkembang. Dukungan orang tua akan terus kami berikan agar mereka bisa tampil maksimal di babak berikutnya,” kata Abdul Haris.

Kini, status juara Grup D sudah berhasil diamankan. Tetapi tantangan Easga FC justru semakin besar.

Babak 32 besar akan menjadi panggung baru bagi 25 talenta muda Kuningan untuk menguji hasil pembinaan selama ini. Bandung United menjadi lawan yang harus dihadapi, sekaligus kesempatan bagi para pemain menunjukkan bahwa talenta lokal Kuningan mampu berbicara di level Jawa Barat.

Bagi Galih, setiap pertandingan harus dimanfaatkan sebagai ruang untuk tumbuh. Kemenangan memang menjadi target, tetapi proses menghadapi lawan-lawan terbaik juga menjadi bagian penting dari perjalanan panjang para pemain muda.

“Setiap waktu adalah kesempatan yang lain. Kami akan berusaha semaksimal mungkin untuk membuat kesempatan itu menjadi lebih baik,” pungkas Galih.***

Deskripsi Iklan Anda

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Tutup