Dorong Ekonomi Desa Penyangga, BTNGC Gelontorkan Rp300 Juta
KUNINGANSATU.COM,- Balai Taman Nasional Gunung Ciremai (BTNGC) menyalurkan bantuan usaha ekonomi produktif senilai Rp300 juta kepada 13 kelompok masyarakat desa penyangga kawasan Taman Nasional Gunung Ciremai (TNGC) di Kabupaten Kuningan dan Majalengka.
Bantuan tersebut diserahkan dalam kegiatan Sosialisasi dan Serah Terima Bantuan Usaha Ekonomi Produktif yang berlangsung di Ruang Rapat Kantor Balai Taman Nasional Gunung Ciremai, Kabupaten Kuningan, Selasa (22/9/2026).
Kepala BTNGC, Toni Anwar, S.Hut., M.T., mengatakan program tersebut merupakan bagian dari upaya BTNGC dalam mendorong penguatan ekonomi masyarakat yang tinggal di sekitar kawasan konservasi.
Menurut Toni, keberadaan masyarakat desa penyangga menjadi bagian penting dalam mendukung pengelolaan kawasan TNGC. Karena itu, pemberdayaan masyarakat tidak hanya berkaitan dengan aspek sosial, tetapi juga peningkatan kapasitas dan usaha ekonomi.
“Taman Nasional Gunung Ciremai mempunyai fungsi dalam memberdayakan masyarakat sekitar kawasan. Salah satu tahapan dalam pemberdayaan masyarakat adalah peningkatan usaha ekonomi masyarakat,” ujar Toni dalam sambutannya.
Ia menjelaskan, kawasan TNGC yang berada di wilayah Kabupaten Kuningan dan Majalengka memiliki peran penting dalam menjaga keseimbangan lingkungan. Selain menjadi kawasan konservasi, kawasan tersebut berfungsi menjaga sumber mata air, mencegah potensi banjir dan longsor, serta menjadi habitat berbagai satwa liar.
Di sisi lain, TNGC juga memiliki keterkaitan erat dengan kehidupan ekonomi masyarakat yang berada di sekitar kawasan.
Saat ini terdapat 54 desa penyangga kawasan TNGC. Sebanyak 32 desa berada di delapan kecamatan di Kabupaten Kuningan, sementara 22 desa lainnya tersebar di tujuh kecamatan di Kabupaten Majalengka.
“Keberadaan desa penyangga menjadi modal sumber daya manusia dalam pengelolaan kawasan TNGC. Salah satu keberhasilan pengelolaan kawasan konservasi apabila masyarakat desa penyangga sudah dapat memanfaatkan kawasan baik secara ekologi, ekonomi, dan sosial secara lestari,” katanya.
Dalam program bantuan tahun 2026, BTNGC mengalokasikan anggaran sebesar Rp300 juta untuk 13 kelompok masyarakat yang berada di wilayah Kuningan dan Majalengka.
Dari jumlah tersebut, lima kelompok penerima berada di Kabupaten Kuningan, sedangkan delapan kelompok lainnya berada di Kabupaten Majalengka.
Untuk Kabupaten Kuningan, bantuan diberikan kepada lima kelompok dengan nilai dan peruntukan yang berbeda.
Pertama, Kelompok Koperasi Kirme Green di Desa Lambokil memperoleh bantuan Rp50 juta untuk penataan jalan di luar kawasan TNGC.
Kedua, Kelompok Karya Putra Mandiri Desa Sangkanherang, Kecamatan Jalaksana, mendapatkan bantuan Rp30 juta untuk penataan homestay dan kedai di luar kawasan.
Ketiga, Kelompok Pembudidaya Ikan (Pokdakan) Desa Sadamantra, Kecamatan Jalaksana, menerima Rp25 juta untuk pengembangan kegiatan usaha kelompok.
Selanjutnya, Kelompok Pertanian Purba Desa Trijaya, Kecamatan Mandirancan, memperoleh bantuan Rp25 juta untuk pengembangan pertanian sehat.
Sementara itu, Koperasi Lamping Kidan Desa Pajungkungan, Kecamatan Cilimus, mendapatkan bantuan Rp25 juta untuk pengembangan usaha kopi.
Toni menyebut bantuan tersebut merupakan bentuk komitmen BTNGC dalam mendorong peningkatan kesejahteraan masyarakat sekitar kawasan sekaligus memperkuat hubungan antara konservasi dan pemberdayaan ekonomi.
Ia berharap kelompok penerima tidak hanya menggunakan bantuan tersebut untuk kebutuhan sesaat, tetapi mampu mengelolanya secara optimal dan berkelanjutan sehingga berkembang menjadi sumber pendapatan masyarakat.
“Bantuan ini diharapkan dapat dikelola dan dimanfaatkan secara optimal, berkelanjutan, serta menjadi stimulan bagi peningkatan pendapatan masyarakat,” ungkapnya.
Toni juga menekankan bahwa besaran bantuan yang diberikan harus dipandang sebagai stimulan awal. Dengan pengelolaan yang baik, kelompok penerima diharapkan mampu mengembangkan usaha secara bertahap dan mandiri.
BTNGC berharap program tersebut dapat memperkuat ekonomi masyarakat desa penyangga sekaligus membangun kesadaran bersama mengenai pentingnya menjaga kelestarian kawasan Taman Nasional Gunung Ciremai.
“Masyarakat desa penyangga kawasan TNGC dapat terus hidup sejahtera, beriman, dan bersama-sama pihak lainnya mengokohkan sinergi dan bersatu dalam mewujudkan perlindungan dan kelestarian kawasan hutan Taman Nasional Gunung Ciremai,” pungkas Toni.














