Di Balik Pedasnya Cabai Ada Manisnya Cuan, Kisah Kades Rambatan Budidaya si “Jablay”

KUNINGANSATU.COM,- Kepala Desa Rambatan, Kecamatan Ciniru, Kabupaten Kuningan, Adis, tengah menjadi sorotan setelah mencoba mengembangkan budidaya cabai rawit setan atau cabai Jablay di lahan miliknya. Meski baru beberapa bulan memulai, Adis mengaku optimistis cabai jenis ini dapat menjadi peluang ekonomi baru bagi warganya.

“Di balik pedasnya cabai ternyata ada manisnya juga dari hasil yang didapat,” ujarnya, Sabtu (29/11/2025).

Adis mengelola lahan pribadi seluas 1400 meter persegi dengan menanam sekitar 2.500 pohon cabai. Ia menjelaskan bahwa cabai tersebut mulai bisa dipanen pada usia empat bulan dan memiliki usia produktif hingga 15 bulan. Setelah memasuki masa panen, tanaman cabai dapat dipetik setiap 10 hari.

“Setiap panen minimal dapat satu kwintal. Dalam sebulan bisa tiga kali panen,” jelasnya.

Dengan estimasi minimal 3 kwintal atau 300 kilogram per bulan, dalam setahun hasil yang didapat bisa mencapai 36 kwintal atau 3.600 kilogram. Jika dikalkulasikan dengan harga jual rata-rata Rp30.000 per kilogram, potensi pendapatan minimal yang dapat diperoleh mencapai sekitar Rp108 juta per tahun. Menurut Adis, angka tersebut cukup memberi motivasi untuk terus mengembangkan budidaya cabai ini.

oppo_0

“Asal telaten, hasilnya InsyaAllah ada. Tapi memang tidak bisa setengah-setengah,” katanya.

Adis mengakui bahwa proses budidaya cabai Jablay memiliki tantangan tersendiri. Mulai dari pengaturan air, pemupukan, hingga penanganan hama, semuanya membutuhkan perhatian khusus. Ia menyebut bahwa cuaca ekstrem belakangan ini juga menjadi tantangan yang harus diantisipasi.

“Kalau panas terlalu panjang atau hujan terlalu deras, itu berpengaruh. Jadi harus pinter-pinter baca kondisi,” ungkapnya.

Meski begitu, Adis menegaskan bahwa keberhasilan tidak datang secara instan. Ia menilai dibutuhkan ketekunan, kesabaran, serta dukungan dari berbagai pihak untuk memaksimalkan potensi cabai Jablay sebagai komoditas desa.

“Perlu ketekunan dan kesabaran. Dan tentu perlu dukungan dari banyak hal, termasuk dari pemerintah desa dan masyarakat,” tuturnya.

Ia juga berharap langkah kecil yang ia mulai dapat menjadi bagian dari penguatan program ketahanan pangan nasional. Menurutnya, apa yang ia lakukan sejalan dengan arah kebijakan Presiden Prabowo Subianto.

“Kalau pemerintah pusat sedang mendorong ketahanan pangan, kita di desa juga harus ikut bergerak. Ke depan kalau bisa dikelola BUMDes supaya manfaatnya lebih besar untuk warga,” harapnya.

Adis percaya bahwa sektor pertanian masih menjadi tulang punggung ekonomi desa. Ia berharap budidaya cabai ini dapat menginspirasi warga Rambatan untuk memanfaatkan lahan yang ada dan mengembangkan komoditas bernilai tinggi.

“Saya ingin warga melihat bahwa bertani itu bukan pekerjaan sampingan, tapi sumber penghasilan yang sangat menjanjikan kalau dilakukan dengan serius,” tutupnya.***

Deskripsi Iklan Anda

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

1 Komentar

  1. Jocelyn4702

    https://shorturl.fm/dfALi

    Balas
Sudah ditampilkan semua
Tutup