Buka Tabir Konservasi Gunung Ciremai: Zonasi, Satwa Kunci, dan Tantangan TNGC

KUNINGANSATU.COM,- Pengelolaan Taman Nasional Gunung Ciremai (TNGC) tidak bisa dilepaskan dari keseimbangan antara kepentingan ekologi, sosial, dan pembangunan. Hal tersebut mengemuka dalam Diskusi Publik bertajuk “Menjaga Ciremai: Membuka Tabir Konservasi Ciremai” yang digelar BEM UNISA 2026 Kabinet Satyagraha, Sabtu (17/1/2026), di Kopi Hawwu, Kuningan.

Dalam forum tersebut, Kepala Seksi PTN Wilayah I Kuningan, Eko Kosasih, S.Hut., M.I.L, memaparkan secara komprehensif konsep taman nasional, sistem zonasi, hingga tantangan konservasi yang dihadapi Gunung Ciremai sebagai kawasan pelestarian alam strategis di wilayah Ciayumajakuning.

Eko menjelaskan, taman nasional merupakan kawasan pelestarian alam yang dikelola dengan sistem zonasi, berbeda dengan cagar alam yang bersifat tertutup. Menurutnya, zonasi menjadi instrumen penting agar kepentingan perlindungan ekosistem tetap berjalan seiring dengan kebutuhan sosial dan ekonomi masyarakat.

“Di dalam taman nasional ada zona inti yang benar-benar dilindungi untuk menjaga ekosistem alami, kemudian zona rimba sebagai penyangga, serta zona pemanfaatan yang bisa digunakan secara terbatas, misalnya untuk wisata alam dengan sistem kuota dan kajian daya dukung,” jelasnya.

Selain itu, terdapat pula zona khusus yang mengakomodasi infrastruktur yang sudah ada sebelum penetapan kawasan, seperti menara telekomunikasi, jalan, dan jalur listrik. Sementara zona rehabilitasi difokuskan pada pemulihan ekosistem, terutama di bekas lahan kritis yang sebelumnya merupakan hutan produksi.

Eko mengungkapkan, saat ini TNGC memiliki sekitar 2.607,43 hektare zona rehabilitasi, dengan target pemulihan sekitar 100 hektare pada tahun ini di wilayah Kuningan dan Majalengka. Upaya tersebut dilakukan dengan menanam jenis tanaman endemik seperti saninten, peuteuy, dan salam.

Dalam paparannya, ia juga menekankan pentingnya perlindungan keanekaragaman hayati, termasuk satwa kunci seperti macan tutul jawa, surili, dan elang jawa yang berstatus kritis. Menurutnya, keberadaan predator puncak sangat berperan menjaga keseimbangan rantai makanan di kawasan hutan.

Tak hanya aspek ekologi, pengelolaan TNGC juga menyentuh aspek sumber daya air. Eko menyebut terdapat 97 titik mata air di kawasan taman nasional, dengan debit minimal mencapai 9.000 liter per detik, yang menjadi tandon air utama bagi wilayah Ciayumajakuning. Pengelolaan sumber air tersebut dilakukan secara kolaboratif bersama pemerintah daerah, aparat kewilayahan, dan tokoh masyarakat.

“Taman nasional tidak anti pembangunan. Yang kami dorong adalah pembangunan berkelanjutan, di mana infrastruktur tetap bisa dibangun, tetapi koridor ekologi dan keseimbangan alam tetap terjaga,” tegasnya.

Diskusi ini juga menyoroti zona religi, sejarah, dan budaya yang berada di kawasan Ciremai, seperti Sumur Tujuh Cikajayaan dan Makam Eyang Buyut Manguntapa, yang dinilai perlu dijaga sebagai warisan lintas generasi.

Melalui forum ini, BEM UNISA mendorong peran mahasiswa sebagai agen perubahan untuk terus mengawal kebijakan konservasi dan membangun kolaborasi lintas pihak. Eko pun mengapresiasi keterlibatan mahasiswa dalam diskusi publik yang dinilainya penting untuk melahirkan solusi bersama.

“Menjaga Ciremai bukan hanya tugas taman nasional, tetapi amanah bersama sebagai khalifah di bumi,” pungkasnya.

Deskripsi Iklan Anda

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Tutup