Pohon Uang & Kearifan Lokal Kuningan, Alan: Ini Kompasnya!

KUNINGANSATU.COM,- Desa-desa di Kabupaten Kuningan sejak lama memuat nama-nama yang tak sekadar penanda wilayah. Banyak di antaranya mengandung unsur buah atau tanaman, sebuah isyarat yang oleh sebagian tokoh dianggap sebagai pesan leluhur mengenai potensi alam yang tersimpan. Alan Suwgiri, salah satu tokoh Kabupaten Kuningan, menjelaskan bahwa nama-nama desa itu bisa menjadi kompas alami untuk menentukan arah pembangunan pertanian dan perkebunan masa kini. Baginya, kearifan lokal bukan hanya cerita masa lalu, tetapi petunjuk yang relevan untuk masa depan.

Ia mencontohkan Desa Cikadu yang nama dasarnya berasal dari kata kadu atau durian. Namun Alan menegaskan bahwa hal itu bukan berarti wilayah tersebut sejak dulu adalah habitat durian.

“Nama-nama desa bisa jadi bukan cerminan sejarah, tapi pesan tentang potensi yang memang dimiliki sebuah wilayah. Leluhur kita seolah memberi tanda apa yang bisa kita kembangkan hari ini,” ucap Alan pada Sabtu (15/11/2025). Ia melihat bahwa simbol-simbol itu dapat menjadi dasar perencanaan pembangunan sektor pangan.

Selain Cikadu, ia menyebut Desa Kadugede yang juga mengandung unsur buah kadu atau durian. Menurutnya, nama itu menunjukkan bahwa tanaman bernilai ekonomi tinggi telah lama dilihat sebagai bagian dari identitas wilayah. Meskipun bukan bukti sejarah pertanian, penamaan ini dapat menjadi inspirasi untuk merancang pola tanam, komoditas unggulan, atau program revitalisasi perkebunan berdasarkan karakter tanah dan budaya masyarakat.

Di wilayah lain, terdapat Desa Langseb yang menggunakan nama salah satu jenis buah langseb. Alan menilai bahwa ragam nama desa berbasis tanaman itu bukan kebetulan.

“Kita harus membaca tanda itu, karena bisa saja potensi tanaman langseb sebenarnya cocok dikembangkan sebagai komoditas niche market,” tuturnya.

Menurutnya, desa-desa dengan identitas botani dapat menjadi contoh bagaimana budaya dan agronomi bisa dijalankan bersamaan. Ia menambahkan bahwa masih banyak nama desa lain di Kabupaten Kuningan yang mungkin menyimpan potensi serupa. Jejak penamaan itu dapat menjadi rujukan dalam memetakan peluang pembangunan desa. Dengan demikian, pemerintah daerah tidak hanya mengandalkan kajian teknis, tetapi juga mempertimbangkan nilai budaya yang sudah melekat dalam identitas masyarakat sejak dulu.

Di Desa Cibeureum Kecamatan Cibeureum, terdapat kekayaan lokal yang sudah melegenda yaitu peuyeum ketan yang dibungkus daun jambu air. Produk UMKM ini menjadi simbol bagaimana alam, budaya, dan ekonomi dapat berjalan beriringan. Alan memandang peuyeum ketan sebagai contoh nyata “pohon uang” yang tumbuh dari kearifan lokal. Bukan metafora belaka, tetapi bukti bahwa nilai ekonomi bisa muncul dari tradisi sederhana yang dirawat oleh masyarakat.

Namun, ia mencatat bahwa daun jambu air yang digunakan untuk pembungkus masih sering didatangkan dari luar daerah. Menurutnya, hal ini justru membuka peluang besar bagi Cibeureum untuk memperkuat ketahanan produksinya.

“Kenapa tidak kalau Cibeureum sekaligus mengembangkan tanaman jambu air? Kita tidak perlu tergantung daerah lain,” kata Alan.

Menurutnya, membangun kebun jambu air bukan sekadar urusan bahan baku, tetapi strategi ekonomi jangka panjang.

Selain memperkuat identitas lokal, penanaman jambu air dapat menciptakan lapangan kerja baru, meningkatkan pendapatan petani, dan membuka peluang diversifikasi produk turunan. Daunnya tetap dipakai untuk peuyeum ketan, sementara buahnya bisa diolah menjadi manisan, sirup, keripik, atau bahkan produk UMKM jenis baru. Ini berarti satu tanaman dapat menopang berbagai sektor ekonomi desa.

Ia menilai bahwa jika ditopang kebijakan yang tepat, peuyeum ketan Cibeureum dapat menjadi unit ekonomi berbasis budaya yang sangat kokoh. Dengan penanaman jambu air dalam skala lebih besar, rantai produksinya bisa tertata lebih efisien.

“Potensi ini tidak boleh dibiarkan berjalan sendiri. Pemerintah harus memastikan Cibeureum punya dukungan penuh,” tegas Alan.

Konsep “pohon uang” yang ia maksud bukan hanya tentang keuntungan ekonomi, tapi juga tentang menjaga kesinambungan budaya dan lingkungan. Menurutnya, jika masyarakat dapat menanam, mengolah, dan memasarkan produk berbasis tradisi, maka kemandirian ekonomi desa bisa tercapai tanpa harus kehilangan identitas lokal yang menjadi kekuatan utama mereka.

Dalam pandangannya, pemerintah daerah Kabupaten Kuningan harus mengambil peran lebih aktif dalam memetakan potensi ekonomi berbasis nama desa dan komoditas lokal. Alan menyampaikan langsung bahwa pemerintah tidak boleh hanya fokus pada program umum, tetapi harus menggali potensi khas tiap wilayah.

“Saya mendorong Pemerintah Daerah Kabupaten Kuningan, khususnya Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian, untuk memulai kajian komoditas berbasis identitas desa. Ini penting untuk arah pembangunan pangan,” ujarnya.

Menurutnya, jika Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian mau bergerak cepat, sejumlah desa bisa segera dianalisis untuk dikembangkan sebagai sentra tertentu. Cikadu dan Kadugede, misalnya, dapat diarahkan menjadi wilayah pengembangan durian unggulan lokal. Langseb bisa menjadi sentra buah langseb. Sementara Cibeureum diarahkan sebagai pusat jambu air dan penguatan UMKM peuyeum ketan. Dengan pendekatan ini, pembangunan tidak lagi generik, melainkan spesifik dan berbasis karakter.

Alan menekankan bahwa pemerintah daerah harus memanfaatkan filosofi yang tertanam dalam nama-nama desa sebagai bahan penyusunan kebijakan.

“Ini bukan hal mistis, tetapi pendekatan budaya yang sudah terbukti dalam banyak daerah,” katanya.

Ia menilai bahwa banyak wilayah di Indonesia berhasil bangkit dengan menempatkan budaya sebagai akar pengembangan agribisnis.Lebih jauh, ia menilai bahwa pengembangan komoditas berbasis desa juga dapat memperkuat ketahanan pangan lokal. Saat setiap desa memiliki komoditas unggulan, maka daerah tidak lagi bergantung pada suplai dari luar untuk kebutuhan tertentu. Dengan demikian, rantai produksi menjadi lebih stabil, risiko krisis pangan dapat ditekan, dan pendapatan petani dapat ditingkatkan secara konsisten.

Terakhir, Alan menegaskan bahwa kolaborasi antara pemerintah desa, kecamatan, dan perangkat daerah harus diperkuat. Ia menyebut bahwa tanpa koordinasi yang baik, ide sebesar apa pun hanya akan menjadi wacana.

“Saya berharap pemerintah bergerak cepat. Desa-desa ini sudah memberi pesan lewat namanya. Sekarang tugas kita membaca pesan itu dan menjadikannya kekuatan,” pungkasnya.***

Deskripsi Iklan Anda

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Tutup