Masuk Kalender Event Jawa Barat, Milangkala ke-6 Saung Kopi Hawwu Usung “Nu Ngora Nu Ngabuana”

KUNINGANSATU.COM,- Saung Kopi Hawwu kembali menggelar rangkaian budaya dalam memperingati Milangkala ke-6 di Saung Kopi Hawwu, Jumat (25/9/2026). Mengusung tema “Nu Ngora Nu Ngabuana”, kegiatan tersebut menjadi ruang untuk memperkenalkan sekaligus menguatkan nilai-nilai budaya Sunda kepada generasi muda.

Rangkaian kegiatan Milangkala Saung Kopi Hawwu tahun ini dikemas melalui agenda Mirun Hawu Ngasakeun Sangu, yang diikuti sejumlah unsur masyarakat, pemerintah, komunitas budaya, seniman, budayawan, tokoh agama, hingga unsur TNI.

Ketua Pelaksana Milangkala Saung Kopi Hawwu ke-6, Indra Wiguna, dalam sambutannya menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang telah hadir dan mendukung pelaksanaan kegiatan tersebut.

Ia mengatakan, Milangkala Saung Kopi Hawwu telah berlangsung selama enam tahun, sejak 2021 hingga 2026. Menurutnya, keberlanjutan kegiatan tersebut tidak terlepas dari dukungan berbagai pihak.

“Alhamdulillah, acara ini sudah dilaksanakan selama enam tahun, sejak 2021 hingga 2026. Semoga ke depannya terus berjalan dan menjadi acara yang bisa terus digelar,” ujar Indra.

Indra juga menyampaikan bahwa Milangkala Saung Kopi Hawwu ke-6 telah masuk dalam kalender event Jawa Barat. Ia berharap hal tersebut dapat menjadi dorongan agar kegiatan budaya tersebut terus berkembang.

Ia juga menyampaikan permohonan maaf apabila dalam pelaksanaan kegiatan masih terdapat kekurangan, baik dalam penyambutan maupun pelayanan kepada para tamu undangan.

“Apabila dalam segala hal terdapat kesalahan dan kekurangan, saya memohon maaf. Kami berharap doa dan dukungan dari semua pihak agar Saung Kopi Hawwu terus berdiri dan berkembang,” tuturnya.

Sementara itu, Owner Saung Kopi Hawwu, Dadan Aminudin Latif, mengatakan perjalanan Saung Kopi Hawwu hingga memasuki usia enam tahun bukanlah perjalanan yang singkat.

Menurut Dadan, selama perjalanan tersebut terdapat berbagai dinamika dan tantangan dalam mengelola Saung Kopi Hawwu. Namun, di tengah berbagai tantangan itu, pihaknya tetap memiliki komitmen untuk mengangkat dan melestarikan budaya Sunda.

“Perjalanan Saung Kopi Hawwu hingga tahun keenam ini tentu bukan perjalanan yang sebentar. Ada banyak lika-liku dan rintangan dalam menjalankan serta mengelola tempat ini,” kata Dadan.

Ia menjelaskan, sejak awal Saung Kopi Hawwu memiliki keinginan untuk mengangkat nilai-nilai luhur budaya Sunda, khususnya budaya yang berkembang di Kabupaten Kuningan.

Pada Milangkala pertama, Saung Kopi Hawwu mengangkat tema “Nu Ngora Nu Ngabudaya”. Tema tersebut menjadi bentuk komitmen untuk melibatkan generasi muda dalam menjaga nilai-nilai budaya.

Kemudian pada tahun kedua, saat pandemi Covid-19 masih berlangsung, tema yang diangkat adalah “Hibar Budaya”. Menurut Dadan, tema tersebut memiliki semangat agar nilai-nilai luhur budaya dapat terus disebarluaskan kepada masyarakat.

Memasuki tahun ketiga, Saung Kopi Hawwu mengangkat tema “Nalikeun Tali Paranti Timbang Rasa Ku Nu Ngora”. Tema tersebut menekankan pentingnya generasi muda tetap berpegang pada tradisi dan nilai-nilai budaya.

Pada tahun keempat, tema yang diusung adalah “Napak Ngadeg Nanjer Waluya”, sedangkan pada tahun kelima mengangkat tema “Nanjerkeun Kawaluyaan Panca Kabudayaan”.

“Setiap langkah yang kita lakukan tetap harus berkaitan dengan tradisi. Kita harus berpijak, berdiri, dan tetap berada dalam nilai-nilai kebaikan,” jelasnya.

Sementara pada Milangkala ke-6, tema “Nu Ngora Nu Ngabuana” dipilih sebagai bentuk komitmen agar nilai-nilai luhur budaya Sunda tidak hanya dipertahankan, tetapi juga dapat berkembang dan dikenal lebih luas.

“Generasi muda yang membawa budaya ke dunia luas tetap harus memiliki akar. Artinya, ketika generasi muda berkembang mengikuti zaman, mereka tetap harus berakar pada warisan budaya yang kita miliki,” ungkap Dadan.

Dadan menyebut, Kuningan memiliki banyak potensi budaya yang dapat terus dikembangkan. Menurutnya, perjalanan Saung Kopi Hawwu dalam mengangkat budaya juga tidak terlepas dari dukungan komunitas budaya, pelaku seni, para sesepuh, dan masyarakat.

Ia pun menyambut baik masuknya Milangkala Saung Kopi Hawwu ke-6 dalam kalender event Jawa Barat.

“Ini tentu menjadi sebuah kebanggaan bagi Saung Kopi Hawwu dan juga menjadi kebanggaan bagi Kabupaten Kuningan,” katanya.

Dalam kesempatan tersebut, Dadan juga memaparkan sejumlah program yang selama ini dijalankan Saung Kopi Hawwu. Salah satunya program “makan sepuasnya bayar seikhlasnya” yang disebut sebagai bentuk pengabdian kepada masyarakat dan tanah air.

Selain itu, terdapat program “Urang Sunda Kudu Gaya” yang mendorong masyarakat Sunda untuk tetap memiliki ciri khas budaya, salah satunya melalui penggunaan iket dan samping.

“Orang Sunda harus memiliki ciri khas. Bisa melalui iket, bisa melalui samping. Hal-hal seperti itu yang terus kami kelola di Saung Kopi Hawwu,” ujarnya.

Pada puncak kegiatan, Dadan kemudian menyerahkan sebuah kentongan atau kohkol secara simbolis kepada Bupati Kuningan. Kentongan tersebut menjadi simbol yang berkaitan erat dengan tema “Nu Ngora Nu Ngabuana”.

Menurut Dadan, kentongan memiliki makna tentang gotong royong, saling menjaga, saling membantu, dan saling mengingatkan dalam kehidupan bermasyarakat.

“Kenapa kentongan? Karena ini merupakan sesuatu yang mengakar. Ketika generasi muda berkembang dan melesat mengikuti zaman, mereka tetap harus berakar pada warisan budaya,” jelasnya.

Ia menambahkan, kentongan juga menjadi simbol agar masyarakat tetap menjaga kebersamaan.

“Ini adalah simbol gotong royong, simbol kita saling menjaga, saling membantu, saling mengingatkan, dan saling menguatkan di antara sesama masyarakat,” lanjutnya.

Setelah penyerahan simbol tersebut, para tamu dan masyarakat yang hadir kemudian bersama-sama memukul kentongan secara serentak. Momen itu berlangsung meriah dan disambut tepuk tangan para peserta.

Dadan juga mempersilakan masyarakat membawa kentongan tersebut ke rumah masing-masing sebagai kenang-kenangan dari Milangkala Saung Kopi Hawwu ke-6.

“Silakan kentongan ini dibawa pulang sebagai simbol dan oleh-oleh dari Saung Kopi Hawwu dalam Milangkala yang keenam,” tuturnya.

Melalui rangkaian Milangkala ke-6 ini, Saung Kopi Hawwu kembali menegaskan komitmennya untuk menjadikan budaya sebagai bagian dari kehidupan masyarakat. Tema “Nu Ngora Nu Ngabuana” sekaligus menjadi pesan agar generasi muda dapat terus berkembang mengikuti zaman tanpa kehilangan akar budaya Sunda.

Dengan dukungan pemerintah, komunitas budaya, seniman, budayawan, tokoh agama, serta masyarakat, kegiatan tersebut diharapkan dapat menjadi ruang bersama untuk menjaga keberlanjutan budaya lokal sekaligus memperkenalkannya kepada generasi berikutnya.

Deskripsi Iklan Anda

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Tutup