81 Tahun Indonesia Merdeka: Jangan Hanya Merayakan, Mari Mempertanyakan

KUNINGANSATU.COM,- Setiap tanggal 17 Agustus, kita kembali melihat hal yang sama: bendera merah putih berkibar, lagu Indonesia Raya dinyanyikan, perlombaan digelar, dan ucapan “Dirgahayu Republik Indonesia” memenuhi media sosial. Semua itu tentu penting. Merayakan kemerdekaan adalah bentuk penghormatan kepada para pejuang yang telah mengorbankan tenaga, pikiran, bahkan nyawa untuk Indonesia.

Namun sebagai mahasiswa, rasanya kemerdekaan tidak cukup hanya dirayakan. Ada pertanyaan yang lebih penting untuk kita ajukan: setelah 81 tahun Indonesia merdeka, sebenarnya sudah sejauh mana kita benar-benar merdeka?

Indonesia memang sudah terbebas dari penjajahan secara politik. Tetapi kemerdekaan tidak berhenti pada bebas dari penjajahan bangsa lain. Kemerdekaan juga berbicara tentang pendidikan yang layak, ekonomi yang adil, hukum yang tidak tajam ke bawah, serta kesempatan yang sama bagi masyarakat untuk hidup sejahtera.

Di sinilah kita perlu sedikit menggeser cara pandang. Jangan sampai setiap tahun kita begitu sibuk merayakan kemerdekaan, tetapi lupa mengevaluasi keadaan bangsa.

Data Badan Pusat Statistik menunjukkan bahwa kemiskinan di Indonesia masih menjadi persoalan. Pada Maret 2026, misalnya, pemerintah masih harus terus menghadapi persoalan kemiskinan dan ketimpangan yang tidak bisa diselesaikan hanya dengan seremoni. Fakta ini menunjukkan bahwa kemerdekaan secara formal belum otomatis membuat seluruh masyarakat merasakan kemerdekaan secara nyata.

Begitu juga dengan pendidikan. Kita sering mengatakan bahwa generasi muda adalah masa depan bangsa. Tetapi pertanyaannya, apakah semua anak muda Indonesia sudah mendapatkan akses pendidikan dan kesempatan berkembang yang sama? Masih ada masyarakat yang harus berpikir berkali-kali hanya untuk membayar biaya pendidikan, membeli buku, atau mendapatkan akses internet yang layak.

Sebagai seorang mahasiswa, kita juga tidak boleh merasa cukup hanya karena bisa duduk di bangku perguruan tinggi. Justru status sebagai mahasiswa membawa tanggung jawab untuk membaca keadaan sekitar dan berani mempertanyakannya.

Kemerdekaan seharusnya tidak membuat kita berhenti berpikir. Kemerdekaan justru memberi kita ruang untuk berpikir dan bersuara.

Kita boleh ikut lomba 17 Agustus. Kita boleh memasang bendera. Kita boleh membuat twibbon dan mengunggah ucapan kemerdekaan. Tetapi jangan sampai semua itu menjadi satu-satunya cara kita mencintai Indonesia.

Mencintai Indonesia juga berarti berani mengkritik ketika ada yang tidak beres. Berani bertanya ketika kebijakan tidak berpihak kepada masyarakat. Berani menyuarakan ketidakadilan. Dan yang tidak kalah penting, berani memperbaiki diri sendiri sebelum terlalu sibuk menyalahkan negara.

Sebab persoalan Indonesia bukan hanya tanggung jawab pemerintah. Ada tanggung jawab masyarakat, termasuk mahasiswa, di dalamnya.

81 tahun kemerdekaan seharusnya bukan sekadar angka yang bertambah setiap tahun. Ia harus menjadi momentum untuk melihat kembali perjalanan bangsa: apa yang sudah berhasil, apa yang masih gagal, dan apa yang harus diperbaiki.

Jangan sampai merah putih hanya berkibar di tiang, tetapi semangat kemerdekaan tidak hidup dalam kehidupan masyarakat.

Maka, di usia 81 tahun Indonesia, mari kita rayakan kemerdekaan. Tetapi setelah itu, mari bertanya.

Apakah rakyat sudah benar-benar merasakan kemerdekaan?

Apakah hukum sudah benar-benar adil?

Apakah pendidikan sudah benar-benar bisa diakses semua orang?

Dan apakah kita sebagai generasi muda sudah benar-benar mengambil bagian dalam menentukan masa depan bangsa?

Karena mungkin, bentuk cinta tanah air yang paling jujur hari ini bukan hanya mengatakan “Aku cinta Indonesia”, tetapi juga berani
mengatakan:

“Indonesia, aku mencintaimu. Karena itu, aku tidak ingin berhenti mempertanyakanmu.”


Oleh : Muhammad Daris Mubarrok

Deskripsi Iklan Anda

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Tutup