Naik Delman Saat Long Weekend, Alan Suwgiri: Bahagia Itu Sederhana Bos!
KUNINGANSATU.COM – Long weekend biasanya identik dengan jalanan padat, destinasi wisata penuh sesak, dan dompet yang perlahan menipis. Banyak orang rela menempuh perjalanan jauh demi mencari suasana baru untuk melepas penat.
Namun pemandangan berbeda justru datang dari pemuda inspiratif Kabupaten Kuningan, Alan Suwgiri.
Alih-alih ikut berdesakan keluar kota, Alan memilih menikmati libur panjang dengan cara sederhana namun penuh makna yakni menaiki delman, kendaraan tradisional khas Kuningan yang kini mulai jarang dinikmati generasi muda.
Suara derap kaki kuda, semilir angin yang sejuk, dan suasana santai jalanan menjadi momen yang menurutnya jauh lebih menenangkan dibanding harus terjebak macet berjam-jam.
Di atas delman yang berjalan perlahan itu, Alan melontarkan kalimat spontan yang langsung terasa relate dengan kondisi banyak orang saat ini.
“Bahagia itu sederhana, bos. Ternyata gak usah jauh-jauh, keluar kota, macet, biaya mahal. Ekonomi lagi sulit,” ujarnya sambil tersenyum, Jum’at (15/5/2026).
Kalimat itu terdengar ringan, tetapi menyimpan pesan yang dalam. Di tengah kondisi ekonomi yang belum sepenuhnya stabil, banyak masyarakat mulai berpikir ulang untuk menghabiskan uang demi sekadar mengikuti tren liburan.
Bagi Alan, kebahagiaan tidak selalu harus dicari di tempat-tempat mahal. Kadang, justru pengalaman sederhana di daerah sendiri bisa menghadirkan rasa tenang yang lebih nyata.
Sesekali ia menunjuk kuda penarik delman yang berjalan tenang di depannya.
“Cukup naik kuda. Coba lihat kudanya tuh. Aduh, nikmat mana lagi yang kau dustakan,” katanya sambil tertawa kecil.
Momen sederhana itu pun terasa hangat. Tidak ada kemewahan, tidak ada hingar bingar wisata modern. Hanya perjalanan santai dengan delman, suasana Kuningan yang sejuk, dan rasa syukur menikmati hal-hal kecil yang sering terlupakan.
Alan juga menilai keberadaan delman bukan sekadar alat transportasi tradisional, tetapi bagian dari identitas budaya Kuningan yang harus tetap dijaga. Di tengah modernisasi dan gaya hidup serba cepat, delman menghadirkan suasana yang justru membuat orang bisa menikmati waktu lebih pelan.
“Kadang kita terlalu sibuk cari kebahagiaan jauh-jauh, padahal yang dekat juga bisa bikin hati tenang,” ujarnya.
Pesan sederhana itu kini banyak dirasakan relevan oleh masyarakat. Sebab pada akhirnya, bahagia memang tidak selalu soal destinasi mewah atau biaya besar. Kadang, cukup menikmati sore di kota sendiri sambil naik delman, hati sudah terasa penuh.***
















