Perjalanan Yayasan Cancer Support Kuningan, Dari Penolakan hingga Dipercaya Masyarakat

KUNINGANSATU.COM,- Berangkat dari pengalaman pribadi melawan kanker, Sari Maryati kini menjelma menjadi sosok penggerak kemanusiaan melalui Yayasan Cahaya Sedekah Kebaikan dan Yayasan Cancer Support Kuningan (YCSK). Yayasan ini mulai dirintis sejak akhir 2019, tepat di masa awal pandemi COVID-19, dan mulai aktif bergerak pada awal 2020.

Perjalanan yayasan ini tidak lahir dari ide spontan, melainkan dari luka dan perjuangan panjang. Sari, yang pernah didiagnosis kanker di usia 20-an, harus berjuang sendiri menjalani pengobatan, baik secara fisik maupun finansial.

“Saya berobat sendiri, biaya sendiri. Saya tahu betul bagaimana rasanya. Itu yang membuat saya ingin membantu orang lain, khususnya masyarakat Kuningan,” ujar Sari dalam wawancara, Rabu (6/5/2026).

Meski kini tidak lagi tinggal di Kuningan, keterikatan emosional sebagai tanah kelahiran mendorongnya untuk kembali dan berbuat sesuatu bagi masyarakat. Dari situlah YCSK lahir, dengan fokus membantu pasien kanker, khususnya dari kalangan kurang mampu.

Dalam perjalanannya, Sari mengaku tidak selalu disambut hangat. Ia kerap menghadapi penolakan saat turun langsung ke desa-desa. Bahkan, tak jarang kehadirannya dicurigai.

“Awalnya banyak yang berpikir kami mau minta uang. Bahkan ada yang bilang nanti setelah dibantu, akan ada tagihan ke desa. Itu sempat saya dengar langsung,” ungkapnya.

Penolakan demi penolakan tak membuatnya mundur. Dengan tekad kuat, ia terus mendatangi masyarakat, membuktikan bahwa kehadirannya murni untuk membantu.

Kini, setelah bertahun-tahun berjalan, kepercayaan masyarakat mulai tumbuh. Penolakan pun semakin berkurang seiring dikenal luasnya kiprah yayasan.

Dari sekian banyak kisah, Sari menyimpan pengalaman yang paling membekas. Salah satunya adalah seorang pasien kanker yang tetap semangat menjalani pengobatan meski dalam kondisi sulit.

Pasien tersebut harus menempuh perjalanan jauh untuk kemoterapi, bahkan menggunakan sepeda motor dari daerah pelosok menuju kota rujukan seperti Bandung dan Cirebon.

“Beliau sakit, tapi tetap menyemangati pasien lain. Itu yang membuat saya sangat terharu,” kenangnya.

Bagi Sari, kebahagiaan sederhana adalah ketika melihat pasien yang awalnya putus asa, perlahan kembali tersenyum setelah mendapat pendampingan dan dukungan.

Meski pengobatan kanker sebagian besar telah ditanggung BPJS, Sari menyoroti persoalan lain yang kerap dihadapi pasien, yakni biaya transportasi dan akomodasi.

“Untuk ongkos saja, Rp150 ribu terasa berat bagi mereka, apalagi yang dari pelosok. Di situlah kami hadir membantu,” jelasnya.

YCSK tidak hanya membantu warga Kuningan, tetapi juga menjangkau wilayah lain seperti Cirebon, Majalengka, Ciamis, hingga Garut, sesuai dengan kriteria penerima bantuan.

Sari juga menyoroti masih adanya pemahaman keliru di masyarakat, salah satunya anggapan bahwa kanker adalah penyakit menular.

“Kanker itu tidak menular. Justru pasien butuh dukungan, bukan dijauhi,” tegasnya.

Ia menilai, gaya hidup modern seperti kurang olahraga, pola makan instan, dan stres menjadi faktor pemicu meningkatnya kasus kanker, bahkan di wilayah pedesaan.

Di balik kiprahnya, Sari menyimpan harapan besar bagi masa depan penanganan kanker di Kuningan. Salah satunya adalah keberadaan rumah singgah bagi pasien yang harus berobat ke luar daerah.

“Banyak pasien dari Kuningan yang kesulitan tempat tinggal saat berobat ke Bandung. Saya berharap ada pihak yang tergerak membangun rumah singgah,” ujarnya.

Ia juga mengajak masyarakat untuk lebih peduli terhadap lingkungan sekitar.

“Sebelum membantu jauh, lihat dulu di Kuningan. Masih banyak yang membutuhkan,” pesannya.

Dari seorang penyintas menjadi penggerak, Sari Maryati membuktikan bahwa pengalaman pahit bisa menjadi sumber kekuatan untuk menyalakan harapan bagi orang lain.

Deskripsi Iklan Anda

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Tutup