Rupiah Menguat 2 Hari, Ancaman Defisit Fiskal Masih Membayangi
KUNINGANSATU.COM – Nilai tukar rupiah akhirnya menunjukkan penguatan setelah sempat terpuruk ke level terlemah sepanjang sejarah. Pada perdagangan Senin (27/4/2026), rupiah di pasar spot menguat tipis sebesar Rp18 atau 0,10% ke posisi Rp17.209,45 per dolar Amerika Serikat (AS).
Penguatan juga terjadi pada kurs Jisdor yang naik Rp51 atau 0,30% menjadi Rp17.227 per dolar AS. Tren ini menandai penguatan rupiah selama dua hari berturut-turut setelah sebelumnya menyentuh titik terendah di Rp17.308 per dolar AS pada Kamis (23/4/2026).
Namun, penguatan ini belum sepenuhnya memberi rasa aman. Tekanan terhadap rupiah dinilai masih besar, terutama akibat kekhawatiran pasar terhadap potensi defisit fiskal yang melebar.
Selain itu, risiko lain datang dari kemungkinan menyusutnya surplus perdagangan Indonesia, seiring lonjakan harga minyak dunia. Data neraca dagang Maret yang akan dirilis awal Mei mendatang diperkirakan akan mencerminkan dampak kondisi global tersebut, termasuk eskalasi konflik Iran dan Amerika Serikat sejak akhir Februari 2026 yang mendorong harga energi naik tajam.
Di kawasan Asia, rupiah bukan satu-satunya mata uang yang menguat. Sejumlah mata uang regional juga mencatat penguatan terhadap dolar AS. Won Korea memimpin dengan kenaikan 0,45%, diikuti ringgit Malaysia 0,32% dan dolar Singapura 0,18%.Penguatan juga terjadi pada dolar Taiwan (0,17%), yuan China (0,15%), serta yen Jepang (0,14%). Sementara itu, rupee India dan peso Filipina justru mengalami pelemahan tipis.
Di sisi lain, indeks dolar AS yang menjadi acuan global melemah 0,26% ke level 98,28. Ini menjadi pelemahan dua hari berturut-turut setelah sebelumnya sempat menguat selama tiga hari.
Pelaku pasar kini menanti hasil rapat bank sentral Amerika Serikat, Federal Reserve, yang akan menentukan arah suku bunga acuan. Mayoritas analis memperkirakan suku bunga The Fed masih akan dipertahankan.
Tak hanya itu, dinamika kepemimpinan di tubuh bank sentral AS juga menjadi sorotan. Komite Perbankan Senat dijadwalkan melakukan pemungutan suara terhadap pencalonan Kevin Warsh pada 29 April 2026. Warsh merupakan kandidat pilihan Donald Trump untuk menggantikan Jerome Powell sebagai Ketua The Fed.***

















