Dolar Melemah, Pertamax Naik! Anak Muda Kuningan Tetap Nongkrong, Tapi Lebih Hemat
KUNINGANSATU.COM,- Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat sepanjang Juni 2026, ditambah kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) non-subsidi, mulai menambah beban pengeluaran masyarakat, termasuk di Kabupaten Kuningan. Meski biaya hidup meningkat, kebiasaan nongkrong di kalangan anak muda Kuningan belum surut. Sebagian besar tetap memilih berkumpul bersama teman, hanya saja kini dengan pengeluaran yang lebih diperhitungkan.
Berdasarkan data Bank Indonesia, rupiah ditutup melemah 0,52 persen atau 93 poin ke level Rp17.952 per dolar AS pada perdagangan 24 Juni 2026, lalu bergerak di kisaran Rp17.950–Rp18.000 per dolar AS pada 25 Juni 2026, mendekati level psikologis Rp18.000. Pelemahan ini antara lain dipicu penguatan dolar AS secara global dan meningkatnya ekspektasi pasar terhadap kenaikan suku bunga The Fed.
Di sisi lain, PT Pertamina Patra Niaga menaikkan harga BBM non-subsidi jenis Pertamax (RON 92) dari Rp12.300 menjadi Rp16.250 per liter, dan Pertamax Green 95 dari Rp12.900 menjadi Rp17.000 per liter, terhitung mulai 10 Juni 2026 kenaikan lebih dari 30 persen untuk kedua jenis BBM tersebut.
Sementara itu, BBM bersubsidi seperti Pertalite dan Biosolar tidak mengalami perubahan harga, tetap di angka Rp10.000 dan Rp6.800 per liter.
Tekanan ekonomi tersebut mendorong banyak anak muda untuk lebih selektif dalam membelanjakan uang. Namun, penelusuran di Kabupaten Kuningan menunjukkan perubahan ini belum mengubah budaya nongkrong secara signifikan.
Dari 15 anak muda yang diwawancarai secara acak di Kabupaten Kuningan pada 25 Juni 2026, delapan orang (53,3 persen) mengaku tetap nongkrong seperti biasa, lima orang (33,3 persen) tetap nongkrong namun mengatur pengeluaran agar lebih hemat, dan dua orang (13,3 persen) memilih mengurangi frekuensi nongkrong karena naiknya biaya hidup.
Catatan: mengingat jumlah responden yang terbatas dan bukan merupakan survei acak terstruktur, hasil ini bersifat ilustratif dan belum dapat menggambarkan kondisi anak muda Kuningan secara keseluruhan.
Sebagian anak muda mengaku mulai merasakan dampak kenaikan harga pada kebutuhan sehari-hari, termasuk makanan dan jajanan. Meski demikian, mereka menilai nongkrong masih menjadi bagian penting dari kehidupan sosial, terutama sebagai tempat berdiskusi, mengerjakan tugas, atau sekadar melepas penat setelah menjalani aktivitas.
Salah satu responden, Ani, mengatakan kenaikan harga BBM membuat biaya transportasinya bertambah, sehingga ia kini lebih selektif dalam mengatur pengeluaran.
“Cara saya mengatur keuangan di saat seperti ini lebih mengutamakan kebutuhan yang penting dulu. Nongkrong atau ngopi tetap ada, tetapi saya batasi sekitar tiga kali dalam sebulan,” ujarnya.
Pandangan berbeda disampaikan Alika. Ia mengaku belum merasakan dampak signifikan karena harga makanan dan minuman di kafe yang biasa ia kunjungi belum berubah.
“Saya masih tetap nongkrong seperti biasa. Harganya juga sejauh ini masih sama, belum ada perubahan di beberapa kafe yang sering saya datangi,” katanya.
Pelaku usaha kafe di Kuningan juga turut menyesuaikan diri dengan kondisi ekonomi. Ika, seorang barista di salah satu kafe di Kabupaten Kuningan, mengatakan harga bahan baku memang mengalami kenaikan. Meski demikian, pihak kafe memilih menahan harga menu agar pelanggan tetap merasa terjangkau.
“Untuk harga bahan baku memang sekarang banyak yang naik, tetapi harga menu masih tetap sama. Alhamdulillah, pengunjung juga tetap ramai,” ujar Ika.
Dari hasil penelusuran ini, tergambar bahwa sebagian anak muda Kuningan masih mempertahankan kebiasaan nongkrong di tengah kenaikan biaya hidup, dengan caranya masing-masing menyesuaikan pola pengeluaran. Sebagian merasa belum terdampak signifikan, sementara sebagian lain mulai membatasi frekuensi maupun nominal yang dikeluarkan untuk nongkrong.
Oleh Aam Amalia
















