https://shorturl.fm/rULJz
Bidang SD Dorong Transformasi Digital, Pendidikan Karakter Tetap Jadi Prioritas
KUNINGANSATU.COM – Pemanfaatan teknologi dalam dunia pendidikan terus berkembang seiring percepatan transformasi digital di sekolah. Namun di tengah arus digitalisasi tersebut, penguatan pendidikan karakter disebut tetap menjadi fondasi utama dalam proses pembelajaran di tingkat sekolah dasar.
Kepala Bidang (Kabid) SD pada Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kabupaten Kuningan, Surya, S.Pd., M.M., menegaskan bahwa integrasi teknologi di lingkungan sekolah dasar tidak boleh menggeser esensi pendidikan karakter yang selama ini menjadi bagian penting dalam pembentukan kepribadian siswa.
Menurut Surya, penggunaan teknologi diarahkan sebagai alat pendukung pembelajaran yang mampu meningkatkan kreativitas, literasi digital, kedisiplinan, tanggung jawab, hingga etika penggunaan media digital bagi siswa. Meski demikian, pihaknya memastikan teknologi tidak menggantikan interaksi sosial di lingkungan sekolah.
“Teknologi harus menjadi alat pendukung pembelajaran yang tetap berlandaskan pada penguatan pendidikan karakter. Kita memastikan teknologi tidak menggantikan interaksi sosial, tetapi justru memperkuatnya,” ujar Surya, Senin (18/5/2026).
Ia menjelaskan, fungsi pembinaan dan pengawasan Disdikbud terus dijalankan melalui supervisi sekolah, monitoring pembelajaran, pelatihan guru, hingga evaluasi penerapan teknologi dalam proses belajar mengajar. Pengawasan tersebut dilakukan agar penggunaan perangkat digital tetap berada pada koridor pedagogis dan tidak hanya berorientasi pada penggunaan teknologi semata.
Selain memastikan capaian kurikulum berjalan optimal, Disdikbud juga terus mengawasi agar siswa tetap aktif berinteraksi secara sosial dan tidak mengalami ketergantungan terhadap perangkat digital.
Surya mengungkapkan, digitalisasi pendidikan kini telah menjadi salah satu indikator penting dalam program kerja Bidang SD, terutama dalam peningkatan mutu layanan pendidikan, penguatan literasi digital, pengembangan media pembelajaran, serta peningkatan kompetensi guru.
Meski demikian, digitalisasi menurutnya tetap diposisikan sebagai sarana pendukung untuk mencapai tujuan pendidikan yang holistik dan tidak menggantikan nilai-nilai dasar pendidikan karakter.
Dalam implementasinya, Bidang SD Disdikbud Kuningan juga terus melakukan pembinaan kepada tenaga pendidik melalui pelatihan, workshop, pendampingan, hingga kegiatan Kelompok Kerja Guru (KKG). Guru didorong agar mampu memanfaatkan teknologi secara edukatif, kreatif, aman, sekaligus tetap menanamkan nilai karakter dalam setiap proses pembelajaran digital.
“Guru juga dibimbing untuk mengawasi etika digital siswa, penggunaan media sosial, serta membangun interaksi belajar yang positif,” katanya.
Terkait monitoring dan evaluasi, Surya menyebut terdapat sejumlah indikator yang digunakan untuk mengukur keberhasilan digitalisasi pendidikan di tingkat SD. Mulai dari tingkat pemanfaatan teknologi dalam pembelajaran, kompetensi digital guru dan siswa, ketersediaan sarana TIK, efektivitas pembelajaran, hingga peningkatan hasil belajar siswa.
Tidak hanya itu, aspek karakter seperti disiplin, tanggung jawab, etika penggunaan teknologi, dan kemampuan bekerja sama juga menjadi bagian penting dalam evaluasi pendidikan berbasis digital.
Disdikbud Kuningan sendiri saat ini masih mengacu pada regulasi kementerian, kebijakan daerah, serta pedoman pembelajaran berbasis teknologi yang disesuaikan dengan kondisi sekolah. Pedoman tersebut mencakup tata cara penggunaan perangkat digital, pengawasan siswa, pembatasan akses konten yang tidak sesuai, durasi penggunaan perangkat, hingga prinsip penggunaan teknologi yang aman dan sehat.
Dalam menjaga keseimbangan antara pembelajaran digital dan pendidikan karakter, koordinasi dengan kepala sekolah juga terus dilakukan melalui rapat kerja, supervisi, pembinaan manajemen sekolah, serta evaluasi berkala.
“Kepala sekolah diarahkan agar menyusun kebijakan yang mengintegrasikan pembelajaran digital dengan penguatan budaya sekolah dan pendidikan karakter,” jelasnya.
Lebih jauh, Surya mengakui bahwa perkembangan teknologi yang begitu cepat menjadi tantangan tersendiri bagi dunia pendidikan dasar. Risiko meningkatnya ketergantungan terhadap perangkat digital, berkurangnya interaksi sosial, hingga paparan konten negatif menjadi perhatian serius Disdikbud.
Selain itu, masih terdapat kesenjangan kompetensi digital guru, keterbatasan pengawasan orang tua, hingga perbedaan fasilitas antar sekolah yang menjadi tantangan dalam pelaksanaan transformasi digital pendidikan di Kabupaten Kuningan.
“Oleh karena itu, transformasi digital harus diimbangi dengan penguatan pendidikan karakter, pengawasan yang berkelanjutan, dan kolaborasi antara sekolah, keluarga, dan pemerintah,” pungkas Surya.***
















