Ketika Jabatan Lepas, Apa yang Masih Tersisa?

KUNINGANSATU.COM,- Pergantian jabatan kerap datang tanpa aba-aba. Hari ini seseorang berada di puncak kekuasaan, esok hari posisinya bisa berganti. Situasi inilah yang, menurut tokoh muda Kabupaten Kuningan Alan Suwgiri, seharusnya membuat setiap pemimpin menaruh kesadaran bahwa kekuasaan bukan sesuatu yang bisa digenggam selamanya.

Hal itu disampaikan Alan pada Senin (26/1/2026) saat menanggapi dinamika kepemimpinan yang terus berubah. Ia mengingatkan bahwa jabatan hanyalah titipan, sementara sikap dan perlakuan terhadap sesama akan meninggalkan jejak yang jauh lebih panjang.

“Kekuatan jabatan itu rapuh. Hari ini dipuja, besok diganti,” ujar Alan.

“Yang kokoh hanyalah caramu memperlakukan orang, dan itu satu-satunya hal yang tidak bisa dicopot,” lanjutnya.

Menurut Alan, masyarakat tidak hanya menilai pemimpin dari jabatan yang disandang atau kebijakan yang dibuat, tetapi dari bagaimana mereka diperlakukan secara langsung. Cara seorang pemimpin mendengar keluhan, merespons kritik, dan hadir di tengah masyarakat akan membentuk kesan yang sulit dihapus oleh waktu.

“Orang mungkin lupa kita pernah duduk di posisi apa, tapi mereka akan selalu ingat bagaimana perasaan mereka saat berhadapan dengan kita,” katanya.

Pria peraih penghargaan tokoh inspiratif ini juga menyinggung perubahan sikap yang kerap terjadi ketika seseorang mendapatkan jabatan. Alan menilai, kekuasaan seharusnya membuat seseorang lebih berhati-hati dalam bersikap, bukan justru menjauh dari rakyat.

“Jabatan itu bukan alasan untuk merasa lebih tinggi. Justru di situ ujian kerendahan hati dimulai,” ujarnya.

Lebih jauh, Alan menekankan pentingnya empati dan integritas dalam kepemimpinan. Tanpa kedua hal tersebut, menurutnya, kekuasaan hanya akan melahirkan jarak dan ketidakpercayaan.

“Kalau empati hilang, maka yang tersisa hanya kewenangan tanpa hati,” ucapnya.

Sebagai bagian dari generasi muda, Alan mengajak anak-anak muda di Kabupaten Kuningan untuk menyiapkan diri bukan hanya dengan ambisi jabatan, tetapi juga dengan karakter. Ia berharap lahir pemimpin-pemimpin yang memandang jabatan sebagai ruang pengabdian.

“Jabatan bisa datang dan pergi, tapi karakter akan selalu dibawa ke mana pun kita melangkah,” katanya.

Menurut Alan, ketika masa jabatan berakhir, masyarakat tidak lagi menyoal titel atau fasilitas yang pernah melekat. Yang tersisa hanyalah cerita tentang sikap, tentang perlakuan, dan tentang kemanusiaan.

Pernyataan Alan tersebut menjadi pengingat bahwa di tengah cepatnya pergantian kekuasaan, nilai-nilai kemanusiaan tetap menjadi fondasi utama dalam membangun kepercayaan dan kepemimpinan yang bermakna.***

Deskripsi Iklan Anda

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Tutup