Beda Itu Indah! Kesbangpol Kuningan Dorong Pelajar Jadi Garda Toleransi
KUNINGANSATU.COM – Menjaga kerukunan di tengah keberagaman tidak cukup hanya dengan menyerukan toleransi. Diperlukan kesadaran, sikap saling menghormati, serta keberanian untuk menolak intoleransi yang dapat mengancam persatuan. Pesan inilah yang mengemuka dalam sosialisasi dan dialog kerukunan umat beragama bertema “Beda Itu Indah” di Kabupaten Kuningan.
Sekretaris Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Kabupaten Kuningan, MH. Khadafi Mufti, S.Pd., M.Si., menekankan pentingnya keterlibatan generasi muda dalam merawat kerukunan. Pelajar tidak boleh hanya menjadi penonton di tengah persoalan intoleransi, tetapi perlu mengambil peran nyata dalam membangun lingkungan yang menghargai perbedaan.
Pesan tersebut disampaikan Khadafi saat menjadi narasumber dalam kegiatan yang diselenggarakan Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Kabupaten Kuningan di Aula Kampus Universitas Muhammadiyah Kuningan, Jalan Raya Cigugur, Sabtu (17/10/2026).
“Perbedaan bukan alasan untuk bermusuhan. Justru di tengah keberagaman, kita harus belajar saling menghormati dan memahami. Persatuan tidak mengharuskan semua orang menjadi sama, tetapi menuntut kita untuk tetap menghargai satu sama lain,” ujar Khadafi.
Menurutnya, tantangan menjaga toleransi semakin kompleks seiring perkembangan teknologi informasi. Media sosial yang seharusnya menjadi ruang pertukaran gagasan justru dapat memicu persoalan apabila digunakan untuk menyebarkan hoaks, provokasi, dan ujaran kebencian.
Generasi muda menjadi salah satu kelompok yang perlu dibekali kemampuan menyaring informasi. Tanpa kecakapan tersebut, perbedaan pandangan maupun keyakinan berpotensi dimanfaatkan untuk membangun prasangka dan memperlebar jarak antarkelompok.
“Jangan mudah terprovokasi oleh informasi yang belum jelas kebenarannya. Pelajar harus kritis, mampu memilah informasi, dan tidak ikut menyebarkan konten yang mengandung kebencian. Jangan sampai media sosial yang seharusnya mendekatkan justru menjadi alat untuk memecah belah,” katanya.
Khadafi juga menekankan bahwa toleransi tidak semestinya berhenti sebagai pemahaman teoritis yang diperoleh melalui seminar atau sosialisasi. Nilai tersebut harus tercermin dalam perilaku sehari-hari, termasuk dalam pergaulan di sekolah.
Menghormati teman yang berbeda keyakinan, menolak perundungan, serta tidak mendiskriminasi orang lain merupakan bentuk sederhana toleransi yang dapat diterapkan oleh setiap pelajar.
“Kerukunan dimulai dari lingkungan terdekat. Di sekolah, misalnya, jangan menjadikan perbedaan sebagai bahan ejekan atau alasan untuk mengucilkan teman. Kita harus membangun lingkungan yang aman, saling menghormati, dan memberi ruang bagi setiap orang untuk hidup berdampingan,” tutur Khadafi.
Kegiatan tersebut diikuti 50 pelajar SMA, SMK, dan MA, serta perwakilan Forum Pemuda Lintas Agama (FORMULA), Jaringan Perempuan Lintas Agama (JAGA PELITA), dan pengurus FKUB Kabupaten Kuningan.
Selain Khadafi, hadir sebagai narasumber Ketua FKUB Kabupaten Kuningan Dr. H. Fenny Rahman, HS, M.Pd.; Kepala Subbagian Tata Usaha Kementerian Agama Kabupaten Kuningan Dr. H. Muhamad Nurdin, S.Ag., M.Pd.I., CH, CHt.; serta Rektor Universitas Muhammadiyah Kuningan Dr. apt. Wawang Anwarudin, M.Sc.
Kegiatan tersebut turut dihadiri Ketua BAZNAS Kabupaten Kuningan H. Yusron Kholid, S.Ag., M.Si., dan Ketua Komisi Fatwa MUI Kabupaten Kuningan K.H. Aman Syamsul Falah, S.Pd.I., M.Pd.I.
Dialog berlangsung interaktif dengan memberikan kesempatan kepada peserta menyampaikan pertanyaan dan pandangan mengenai cara menghadapi perbedaan di lingkungan sekolah maupun masyarakat. Forum ini sekaligus menjadi ruang untuk memperkuat pemahaman bahwa menjaga kerukunan membutuhkan partisipasi seluruh elemen, termasuk generasi muda.
Salah satu gagasan yang mengemuka ialah pembentukan Duta Kerukunan Pelajar Kabupaten Kuningan. Inisiatif tersebut diharapkan dapat memperluas gerakan toleransi melalui keterlibatan pelajar sebagai penggerak di sekolah masing-masing.
Keberlanjutan sosialisasi juga menjadi perhatian agar pesan kerukunan tidak berhenti pada satu kegiatan. Perluasan jangkauan ke sekolah dan kecamatan, penguatan literasi digital, serta sinergi antara FKUB, Kesbangpol, Kementerian Agama, dan instansi terkait menjadi langkah penting untuk membangun kesadaran toleransi secara berkelanjutan.
Bagi Kesbangpol, penguatan karakter kebangsaan merupakan bagian penting dalam menjaga persatuan di tengah masyarakat yang majemuk. Generasi muda perlu memiliki pemahaman bahwa menghargai perbedaan bukan berarti menghilangkan identitas masing-masing, melainkan mengakui hak setiap orang untuk hidup berdampingan secara damai.
“Beda itu indah bukan sekadar slogan. Saya berharap para pelajar mampu menjadi pelopor toleransi, berani menolak intoleransi, dan menggunakan media sosial untuk menyebarkan pesan perdamaian. Masa depan kerukunan Kabupaten Kuningan juga berada di tangan generasi muda yang mampu menghargai perbedaan dan menjaga persatuan,” pungkas Khadafi.***















