Kisah Singkat Kebangkitan Talaga Surian di Desa Puncak
KUNINGANSATU.COM,- Kisah bangkitnya Talaga Surian di Desa Puncak, Kecamatan Cigugur, menjadi bukti kuatnya semangat masyarakat dalam membangun destinasi wisata berbasis alam. Abun salah satu penggagas utama, menceritakan perjalanan panjang tempat ini saat ditemui di kawasan Talaga Surian, Rabu (26/11/2025).
Talaga Surian pertama kali dibuka sekitar tahun 2003-2004. Namun kala itu, wisata alam belum sepopuler sekarang sehingga banyak kendala muncul, terutama soal modal dan sumber daya manusia.
“Dulu kami kerja sukarela. Tidak ada bayaran. Lama-lama banyak yang mundur sendiri karena tidak ada pemasukan,” ujar Abun.
Kondisi itu membuat aktivitas wisata berhenti hingga 2015. Titik kebangkitan datang ketika sejumlah destinasi di kawasan Palutungan kembali ramai, termasuk Tenjo Laut. Momentum itu memicu masyarakat untuk menghidupkan lagi Talaga Suryan pada 2017. Bahkan saat itu hingga 58 warga terlibat secara langsung dalam penataan kawasan.
Nama “Talaga Surian” sendiri diambil dari peta Belanda lama yang mencatat detail wilayah hutan Perhutani. “Di peta itu ada nama-nama lama, termasuk Talaga Surian. Makanya kami pakai itu sebagai identitas,” jelas Abun.
Sementara itu, Debi Ramadani, salah satu pengelola Talaga Surian, menambahkan bahwa destinasi ini kini berada di bawah pengelolaan balai Taman Nasional Gunung Ciremai (TNGC). Sebelumnya, kawasan tersebut masuk dalam wilayah Perhutani.
“Sejak perpindahan dari kawasan produksi ke kawasan konservasi, Talaga Suryan resmi berada di bawah TNGC. Itu membuat tata kelolanya lebih jelas dan terarah,” kata Debi.
Perubahan tersebut menjadi fondasi penting dalam pengembangan wisata alam, termasuk aturan zonasi, keamanan kawasan, serta pemanfaatan ruang untuk kegiatan wisata yang tetap mengutamakan konservasi.
Untuk memperkuat sistem kerja, masyarakat kemudian membentuk koperasi yang beranggotakan 25 orang warga asli Desa Puncak. Melalui koperasi inilah pengelolaan berbagai unit wisata berjalan, mulai dari perawatan lingkungan hingga pengaturan tenaga kerja.
“Adanya wisata ini bukan hanya soal kunjungan, tapi bagaimana memberikan manfaat langsung ke masyarakat. Baik yang bekerja di lapangan, menjaga kebersihan, hingga yang membuka warung,” jelas Debi.
Unit usaha yang ada di kawasan Talaga Surian termasuk warung kecil, spot kuliner, serta pelayanan wisata mengutamakan tenaga kerja lokal. Warga yang dulunya sebagian besar hanya bekerja sebagai buruh harian kini mendapatkan peluang baru melalui sektor wisata.
Komitmen pemberdayaan masyarakat inilah yang membuat Talaga Surian tetap bertahan, bahkan ketika mengalami fase sulit pada awal pengembangan.
Baik Abun maupun Debi sepakat bahwa kekuatan utama Talaga Surian adalah mental warga yang bersedia bekerja tanpa pamrih demi masa depan wisata desa.
“Yang bertahan sampai sekarang itu orang-orang yang mentalnya kuat dan punya komitmen memajukan wisata,” ujar Abun.
Dengan dasar sejarah panjang, dukungan TNGC, pengelolaan koperasi yang tertata, serta pemberdayaan masyarakat yang terus berjalan, Talaga Suryan kini kembali berdiri sebagai destinasi wisata alam yang tumbuh dari semangat gotong royong warga Desa Puncak.

















