Tak Puas Keputusan Panitia, Tunas Mekar FC Linggarmekar Mundur dari Cilimus Cup
KUNINGANSATU.COM,- Tim Tunas Mekar FC Linggarmekar menyatakan mundur dari turnamen setelah pertandingan melawan Mandirancan dihentikan akibat kericuhan yang terjadi di lapangan. Pertandingan ulang yang dijadwalkan panitia pada Selasa (29/9/2026) pukul 08.00 WIB tidak dihadiri tim Linggarmekar sehingga dinyatakan walkover (WO) dan kalah 0-3.
Kepala Dusun Sawahrangru sekaligus bagian dari tim Tunas Mekar FC Linggarmekar, Wahyudi, mengatakan keputusan tersebut diambil setelah pihaknya mengikuti pertemuan dengan panitia dan pihak terkait pada Senin malam.
Menurut Wahyudi, pihak Linggarmekar sebelumnya meminta panitia menerapkan aturan turnamen secara tegas terhadap kejadian kericuhan yang berlangsung saat pertandingan.
Ia menjelaskan, kericuhan bermula ketika pertandingan memasuki menit ke-47. Sebelumnya, kata dia, pertandingan juga sempat diwarnai sejumlah pelanggaran.
“Di menit 47 itu ada pelanggaran. Berawal dari terjatuhnya pemain dari Mandirancan dan wasit memberikan sanksi. Ada protes dan diberikan kartu kuning untuk kedua pemain,” ujar Wahyudi saat dihubungi melalui sambungan telepon, Selasa (29/9/2026).
Setelah itu, lanjut Wahyudi, terjadi adu mulut antara pemain kedua tim. Situasi kemudian memanas hingga terjadi pemukulan.
Wahyudi menyebut pemain mandirancan kemudian mendapatkan kartu merah. Namun, menurut dia, pemain tersebut tidak langsung meninggalkan lapangan sehingga perdebatan kembali terjadi dan berujung pada pemukulan berikutnya.
“Masih terjadi adu mulut yang disayangkan wasit tidak langsung mengusir pemain yang kena kartu merah. Akhirnya terjadi pemukulan yang selanjutnya, yang kedua, yang dilakukan oleh pemain mandirancan yang sudah mendapatkan kartu merah tersebut terhadap pemain Linggarmekar,” katanya.
Situasi kemudian semakin tidak terkendali. Penonton, official, dan aparat keamanan disebut turun ke lapangan setelah melihat kejadian tersebut.
Wahyudi mengatakan kondisi lapangan akhirnya menjadi chaos hingga wasit memutuskan menghentikan pertandingan pada menit ke-52.
“Yang akhirnya di lapangan menjadi chaos, akhirnya di menit ke-52 wasit menyatakan pertandingan dihentikan,” ujarnya.
Sebelum pertandingan dihentikan, Mandirancan disebut tengah unggul 2-0 atas Linggarmekar.
Pasca-pertandingan, perwakilan Linggarmekar bersama pihak desa, kapten tim dan official menghadiri pertemuan dengan panitia untuk membahas kelanjutan pertandingan.
Dalam pertemuan tersebut, Wahyudi mengaku meminta panitia mengambil tindakan berdasarkan regulasi turnamen Sesuai Ketika Technical Meeting, khususnya terhadap tindakan yang dianggap menjadi pemicu kericuhan.
Ia menyebut pihaknya berharap ada keputusan tegas, termasuk kemungkinan diskualifikasi terhadap tim yang dinilai terlibat dalam kejadian tersebut.
“Yang saya harapkan itu ketegasan dari panitia atas dasar aturan-aturan dan pasal-pasal yang dibuat di kepanitiaan,terutama di pasal 22 . Diskualifikasi tim yang menyebabkan awal kericuhan atau diskualifikasi dua dua nya ” katanya.
Namun, menurut Wahyudi, hasil pertemuan tidak mengakomodasi tuntutan tersebut. Panitia justru memutuskan pertandingan dapat dilanjutkan melalui pertandingan ulang dengan ketentuan skor, waktu tersisa, serta komposisi pemain mengikuti kondisi saat pertandingan dihentikan.
“Argument dari komisioner, pertandingan masih tetap bisa dilanjutkan, tidak ada sanksi untuk mendiskualifikasi, baik untuk Linggarmekar ataupun Mandirancan,” ungkapnya.
Wahyudi menuturkan, pihak Linggarmekar kemudian memilih tidak melanjutkan pertandingan.
“Ya kita sebagai ini ya udah mending mundur secara terhormat. Silakan untuk pertandingan ini, dan misalnya dikenakan WO ya nggak apa-apa,” ujarnya.
Pertandingan ulang yang dijadwalkan Selasa pagi akhirnya tidak dihadiri tim Linggarmekar.
Menurut Wahyudi, keputusan tersebut merupakan konsekuensi dari sikap tim yang memilih tidak meneruskan turnamen setelah tuntutan mereka terkait penerapan aturan tidak diakomodasi.
“Resminya dari panitia bahwasanya Linggarmekar WO di pertandingan tadi jam 08.00,” katanya.
Dengan tidak hadirnya Linggarmekar, panitia kemudian menetapkan tim tersebut kalah 0-3. Mandirancan pun dinyatakan melaju ke babak final untuk menghadapi Cimara.
Wahyudi menegaskan, pihaknya sebelumnya juga telah menyampaikan opsi agar kedua tim didiskualifikasi apabila panitia menilai kericuhan tersebut menjadi alasan untuk memberikan sanksi terhadap pertandingan.
“Tuntutan dari Linggarmekar kan untuk mendiskualifikasi. Seumpama memang merasa keberatan, silakan didiskualifikasi kami dan Mandirancan. Berarti kan kami menyarankan baik kami ataupun Mandirancan lebih baik didiskualifikasi dua-duanya,” tuturnya.
Ia mengatakan, pihak Linggarmekar tidak mempermasalahkan apabila akhirnya harus menerima konsekuensi dari keputusan tersebut. Namun, menurutnya, yang menjadi perhatian utama adalah penerapan regulasi turnamen terhadap insiden yang terjadi di lapangan.
“Yang saya harapkan bukan untuk player tersebut menghukum tersebut, yang saya harapkan tindakan tegas dari panitia,” katanya.
Sementara itu, berdasarkan keterangan Wahyudi, pihak komisi disiplin disebut telah membahas sanksi terhadap pemain yang melakukan pemukulan. Sanksi tersebut, menurut dia, berupa larangan bermain dalam turnamen antarkampung (tarkam) di wilayah Kabupaten Kuningan untuk periode tertentu.
Namun, Wahyudi menilai sanksi terhadap pemain secara individual berbeda dengan tuntutan Linggarmekar yang menginginkan penerapan aturan terhadap tim dalam konteks kericuhan pertandingan.
Hingga berita ini ditulis, keterangan yang disampaikan dalam berita ini merupakan penjelasan dari pihak Linggarmekar melalui Wahyudi. Penjelasan dari panitia turnamen, komisioner, maupun pihak Mandirancan diperlukan untuk memperoleh gambaran yang lebih lengkap mengenai keputusan pertandingan dan penerapan regulasi atas insiden tersebut.















