Hutan dan Sumber Air Terancam? Praktisi HSE Soroti Risiko Geothermal

KUNINGANSATU.COM, – Di tengah dorongan pemerintah untuk mempercepat transisi energi melalui pemanfaatan energi terbarukan, proyek panas bumi atau geothermal masih menyisakan sejumlah pertanyaan terkait dampaknya terhadap kelestarian lingkungan.

Rillo Hanggara, S.H., seorang praktisi bidang Health, Safety, and Environment (HSE) atau kesehatan, keselamatan kerja, dan perlindungan lingkungan, menyoroti berbagai risiko ekologis yang menurutnya perlu mendapat perhatian serius dalam setiap tahapan pengembangan proyek geothermal.

Menurut Rillo, pemanfaatan panas bumi sebagai sumber energi rendah emisi tidak serta-merta menjadikan seluruh aktivitas operasionalnya bebas dari dampak lingkungan. Pembangunan infrastruktur, pembukaan lahan, pengelolaan fluida panas bumi, hingga proses operasional sumur harus dikaji secara menyeluruh agar tidak menimbulkan persoalan ekologis di kemudian hari.

“Transisi energi tidak boleh hanya berorientasi pada pemenuhan kebutuhan listrik dan target penurunan emisi. Perlindungan lingkungan serta keselamatan masyarakat yang tinggal di sekitar wilayah proyek juga harus menjadi prioritas,” demikian pandangan yang disampaikan Rillo dalam tulisannya mengenai dampak aktivitas geothermal.

Salah satu persoalan yang disoroti adalah potensi perubahan bentang alam akibat pembangunan infrastruktur pendukung proyek panas bumi.

Menurut Rillo, kegiatan eksplorasi dan pengembangan geothermal di kawasan pegunungan dapat melibatkan pembukaan lahan untuk pembangunan wellpad atau tapak sumur, jalan akses, serta jaringan pipa yang menghubungkan fasilitas operasional.

Apabila tidak direncanakan dan diawasi secara ketat, aktivitas tersebut berpotensi mengurangi tutupan vegetasi, memecah habitat satwa, serta mengganggu keseimbangan ekosistem di sekitarnya.

Kondisi itu menjadi perhatian khusus ketika kegiatan proyek berada di kawasan yang memiliki fungsi ekologis penting, termasuk daerah resapan air dan habitat berbagai jenis flora maupun fauna.

Rillo menilai, kajian lingkungan tidak seharusnya berhenti pada pemenuhan dokumen administratif. Pengawasan terhadap pelaksanaan proyek di lapangan juga perlu dilakukan secara konsisten untuk memastikan kegiatan operasional sesuai dengan ketentuan perlindungan lingkungan.

Selain persoalan pembukaan lahan, pengelolaan fluida panas bumi menjadi aspek lain yang dinilai penting untuk diawasi.

Fluida yang berasal dari reservoir panas bumi dapat mengandung berbagai unsur kimia dan mineral, bergantung pada karakteristik geologi masing-masing lokasi. Dalam kondisi tertentu, kandungan seperti arsenik, boron, merkuri, dan amonia perlu diperhatikan melalui pengujian serta pengelolaan yang sesuai.

Rillo mengingatkan bahwa kebocoran fasilitas, gangguan pada sistem pengelolaan fluida, maupun kegagalan prosedur operasional dapat menimbulkan risiko terhadap lingkungan apabila tidak ditangani dengan baik.

Potensi tersebut, menurutnya, perlu diantisipasi melalui penerapan standar keselamatan dan lingkungan, pemantauan kualitas air dan tanah, serta pengawasan terhadap sistem pengelolaan dan injeksi kembali fluida ke dalam reservoir.

Langkah pencegahan dinilai penting untuk melindungi sumber air yang dimanfaatkan masyarakat, lahan pertanian, dan ekosistem di sekitar wilayah operasional.

Meski demikian, besarnya risiko pencemaran tidak dapat disamaratakan pada setiap proyek. Penilaiannya harus didasarkan pada karakteristik lokasi, hasil pengujian lingkungan, sistem pengelolaan fluida, serta kondisi operasional masing-masing fasilitas.

Rillo juga menyoroti kemungkinan perubahan kondisi bawah permukaan akibat pengambilan dan penginjeksian kembali fluida panas bumi.

Dalam pengembangan geothermal, tekanan dan karakteristik reservoir menjadi bagian penting yang harus dipantau. Perubahan tekanan bawah permukaan dapat memengaruhi kondisi geologi setempat dan, pada kondisi tertentu, berkaitan dengan risiko deformasi tanah maupun aktivitas seismik terinduksi.

Karena itu, pengelolaan reservoir membutuhkan pemantauan teknis yang berkelanjutan, termasuk evaluasi tekanan, pergerakan tanah, dan kondisi geologi di sekitar wilayah proyek.

Rillo menilai, aspek tersebut tidak boleh diabaikan hanya karena geothermal dikategorikan sebagai energi terbarukan.

Menurutnya, setiap proyek perlu memiliki mekanisme pengawasan yang memadai agar potensi gangguan dapat diketahui lebih awal dan ditangani sebelum berkembang menjadi persoalan yang lebih besar.

Bagi Rillo, persoalan utama bukan semata-mata pada pemanfaatan panas bumi sebagai sumber energi, melainkan pada bagaimana proyek tersebut direncanakan, dilaksanakan, dan diawasi.

Ia mengingatkan bahwa predikat energi bersih atau energi terbarukan tidak dapat dijadikan alasan untuk mengabaikan kemungkinan dampak ekologis yang muncul selama kegiatan eksplorasi hingga operasional.

Menurutnya, pemerintah, pengelola proyek, tenaga ahli, dan masyarakat perlu memiliki ruang pengawasan serta komunikasi yang memadai agar keputusan mengenai pengembangan energi turut mempertimbangkan daya dukung lingkungan.

Kajian dampak lingkungan, transparansi informasi, pemantauan kualitas air, perlindungan kawasan hutan, serta keterlibatan masyarakat menjadi sejumlah aspek yang perlu diperhatikan dalam pelaksanaan proyek.

Terlebih, apabila pengembangan geothermal dilakukan di kawasan pegunungan yang memiliki fungsi penting bagi ketersediaan air dan keseimbangan ekosistem, pertimbangan ekologis harus menjadi bagian utama dalam proses pengambilan keputusan.

Rillo menegaskan, keberhasilan transisi energi tidak semestinya hanya diukur dari besarnya kapasitas listrik yang dihasilkan atau berkurangnya emisi karbon. Keberhasilan tersebut juga perlu dilihat dari kemampuan menjaga lingkungan dan meminimalkan risiko terhadap masyarakat di sekitar wilayah proyek.

“Jangan sampai transisi energi hanya menjadi label di atas kertas, sementara kelestarian alam yang berada di garis depan justru terabaikan,” menjadi pesan utama dalam pandangannya.

Ia pun mengingatkan bahwa upaya menjaga lingkungan merupakan tanggung jawab bersama. Pengembangan energi masa depan, menurutnya, harus tetap memperhatikan keselamatan manusia, keberlanjutan ekosistem, dan perlindungan sumber daya alam.

Deskripsi Iklan Anda

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Tutup