Apa Makna Babarit dan Tilawat? Mahasiswa UMKU Telusuri Tradisi Tinggar
KUNINGANSATU.COM,- Tradisi Babarit dan Tilawat masih menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat Desa Tinggar, Kecamatan Kadugede, Kabupaten Kuningan. Di tengah perkembangan zaman, kedua tradisi tersebut terus dipertahankan sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur sekaligus sarana mempererat kebersamaan warga.
Nilai-nilai budaya itu menjadi perhatian mahasiswa Universitas Muhammadiyah Kuningan (UMKU) saat melakukan studi lapangan di Kantor Desa Tinggar. Kunjungan tersebut dilakukan untuk menggali sejarah, makna filosofis, serta perkembangan tradisi lokal dalam kehidupan masyarakat pedesaan modern.
Dalam kegiatan penelitian mata kuliah Sosial Budaya dan Teknologi tersebut, mahasiswa berdialog dengan Kepala Seksi Pelayanan (Kasipel) Desa Tinggar, Maman Suryaman. Ia menjelaskan bahwa Babarit dan Tilawat memiliki tujuan serta waktu pelaksanaan yang berbeda, meskipun sama-sama mengandung nilai kebersamaan dan spiritualitas.
Menurut Maman, tradisi Babarit merupakan kegiatan ziarah dan doa bersama untuk mengenang jasa para leluhur, perintis desa, alim ulama, serta mantan kepala desa atau kuwu yang telah meninggal dunia.
Tradisi ini menjadi bagian dari peringatan Milangkala atau hari jadi Desa Tinggar yang dilaksanakan setiap dua tahun sekali pada tahun ganjil. Pelaksanaannya mengacu pada ketetapan Peraturan Desa (Perdes) dan Sidang Paripurna Badan Permusyawaratan Desa (BPD).
“Babarit di Desa Tinggar bukan sekadar seremonial tahunan, melainkan napak tilas kepemimpinan publik dan pengingat prinsip Jas Merah, jangan sekali-kali meninggalkan sejarah,” ujar Maman saat menerima mahasiswa UMKU.
Ia menuturkan, ziarah ke makam para pendahulu menjadi pengingat bahwa kepemimpinan merupakan amanah yang memiliki batas waktu. Karena itu, jasa dan perjuangan para sesepuh perlu dikenang, didoakan, serta dilanjutkan melalui berbagai kebaikan bagi masyarakat.
Selain Babarit, masyarakat Desa Tinggar juga mempertahankan tradisi Tilawat yang dilaksanakan setahun sekali, tepatnya pada Jumat Kliwon terakhir di bulan Sya’ban atau Rewah, menjelang Ramadan.
Maman menjelaskan, Tilawat pada awalnya berkaitan dengan ungkapan syukur masyarakat agraris setelah panen padi. Namun, seiring perkembangan kehidupan masyarakat dan penguatan nilai-nilai keagamaan, tradisi tersebut mengalami perubahan makna dan pelaksanaan.
Kini, Tilawat menjadi momentum untuk melakukan ziarah kubur, memanjatkan doa, serta mempererat silaturahmi antarwarga. Kegiatan biasanya dilanjutkan dengan makan bersama menggunakan bekal makanan yang dibawa secara sukarela oleh masyarakat.
Kebiasaan tersebut menjadi simbol sedekah bersama, kepedulian sosial, dan upaya saling memaafkan sebelum umat Islam menjalankan ibadah puasa Ramadan.
Bagi masyarakat setempat, tradisi ini bukan hanya warisan turun-temurun, tetapi juga ruang untuk menjaga hubungan sosial agar tetap harmonis.
Dalam sesi wawancara, mahasiswa Nabila Rubi Ahdina turut menggali pelaksanaan Milangkala Desa Tinggar. Maman menjelaskan, peringatan hari jadi desa biasanya berlangsung selama tiga hari hingga satu pekan pada Agustus.
Berbagai kegiatan digelar untuk melibatkan masyarakat dari beragam kalangan. Mulai dari turnamen olahraga antar-RT, khususnya bola voli, lomba keagamaan, santunan anak yatim, hingga pertunjukan kesenian tradisional wayang golek dan pengajian akbar.
Turnamen olahraga tidak hanya menjadi hiburan warga, tetapi juga sarana menjaring potensi atlet untuk mewakili desa dalam berbagai kegiatan. Sementara itu, kegiatan sosial dan keagamaan memperkuat semangat gotong royong serta kepedulian terhadap sesama.
Rangkaian peringatan ditutup melalui Sidang Paripurna BPD yang menjadi forum penyampaian capaian kinerja pemerintah desa, laporan program pembangunan, dan pemaparan kembali sejarah asal-usul Desa Tinggar.
Persoalan keberlanjutan tradisi juga menjadi perhatian Muhammad Resky, salah seorang mahasiswa yang terlibat dalam wawancara. Menanggapi hal tersebut, Maman menyampaikan bahwa keterlibatan generasi muda di Desa Tinggar sejauh ini cukup menggembirakan.
Ia memperkirakan sekitar 70 hingga 80 persen generasi muda memahami tradisi leluhur yang masih dijalankan masyarakat.
Menurutnya, keterlibatan organisasi kepemudaan menjadi salah satu faktor yang membantu menjaga keberlangsungan tradisi tersebut. Karang Taruna dan Ikatan Remaja Masjid Jami (IRMIJI), misalnya, dilibatkan dalam kepanitiaan, menjadi dewan juri, hingga membantu pelaksanaan kegiatan ziarah.
Pelibatan tersebut diharapkan membuat generasi muda tidak sekadar mengenal tradisi melalui cerita orang tua, tetapi juga memahami makna dan ikut menjalankannya secara langsung.
Adapun tim mahasiswa UMKU yang melakukan penelitian terdiri dari Muhammad Resky, Nabila Rubi Ahdina, Esa Halimatusadiyah, Ambi Karia Prananda, dan Sinta Diyafatul Jannah. Dalam kegiatan itu, Muhammad Resky dan Nabila Rubi Ahdina bertindak sebagai pewawancara utama.
Melalui penelitian lapangan ini, mahasiswa mendokumentasikan nilai sejarah, sosial, dan budaya yang terkandung dalam tradisi Babarit dan Tilawat. Hasil kajian tersebut diharapkan dapat menjadi bahan akademik sekaligus membantu memperkenalkan kekayaan budaya lokal kepada masyarakat yang lebih luas.
Di tengah perubahan pola hidup dan perkembangan teknologi informasi, pelestarian tradisi seperti yang dilakukan masyarakat Desa Tinggar menjadi bagian penting dalam menjaga identitas daerah. Bukan hanya untuk mengenang masa lalu, tetapi juga untuk mewariskan nilai gotong royong, penghormatan kepada pendahulu, dan kerukunan kepada generasi berikutnya.















