Kunci Bersama Ubah Strategi, Tak Lagi Cuma Bicara soal Kerja Sama
KUNINGANSATU.COM,- Kerja sama antardaerah di wilayah perbatasan Jawa Barat dan Jawa Tengah mulai diarahkan pada langkah yang lebih konkret. Tak hanya memperkuat koordinasi antarpemerintah, Forum Kunci Bersama kini didorong membuka akses pasar bagi petani sekaligus menarik investasi melalui Kunci Bersama Investment Forum (KBIF).
Langkah tersebut menjadi salah satu agenda yang didorong Ketua Kunci Bersama sekaligus Bupati Kuningan, Dr. H. Dian Rachmat Yanuar, M.Si., dalam pengukuhan kepengurusan Kunci Bersama di Pendopo Kabupaten Kuningan, Rabu (21/10/2026).
Melalui KBIF, kerja sama yang melibatkan 11 kabupaten/kota itu diharapkan mampu mempertemukan potensi unggulan daerah dengan kebutuhan pelaku usaha dan investor. Dengan begitu, kerja sama kawasan tidak berhenti pada kesepakatan di atas kertas, tetapi berlanjut pada aktivitas ekonomi yang memberi manfaat bagi masyarakat.
Bupati Dian menilai, potensi ekonomi di wilayah anggota Kunci Bersama cukup beragam, mulai dari pertanian, perdagangan, industri hingga pariwisata. Namun, potensi tersebut perlu dikelola secara terhubung agar mampu menciptakan pasar yang lebih luas dan membuka peluang usaha baru.
“Rakyat di wilayah perbatasan membutuhkan lebih dari sekadar rapat. Mereka membutuhkan pasar untuk hasil panennya dan investor yang bisa membuka lapangan kerja. Karena itu, kerja sama ini harus bergerak dari Government to Government menjadi Business to Business,” ujar Dian.
Sebagai langkah awal, transformasi Kunci Bersama ditandai dengan penandatanganan dua nota kesepahaman atau memorandum of understanding (MoU).
MoU pertama mempertemukan para pemilik usaha, petani, dan pelaku usaha dari daerah anggota Kunci Bersama dengan Direktur Utama Pasar Induk Caringin Bandung. Kerja sama ini diarahkan untuk memperluas pemasaran produk pertanian, seperti sayuran, beras, dan berbagai komoditas hortikultura.
Pasar Induk Caringin menjadi salah satu jalur distribusi yang dinilai strategis untuk menjangkau pasar Bandung Raya. Melalui kemitraan tersebut, produk pertanian dari daerah anggota diharapkan memiliki akses pemasaran yang lebih luas.
Bagi petani, terbukanya jalur pemasaran baru dapat menjadi peluang untuk memperkuat posisi dalam rantai perdagangan. Meski demikian, pelaksanaannya tetap membutuhkan kesiapan pasokan, kualitas produk yang konsisten, serta kesepakatan perdagangan yang jelas antara petani dan pembeli.
Sementara itu, MoU kedua melibatkan PT Sucofindo untuk mendukung pendampingan dan asesmen proposal investasi dari daerah anggota Kunci Bersama.
Melalui kerja sama ini, potensi daerah akan didorong menjadi proyek yang memiliki perencanaan lebih matang, perhitungan bisnis yang terukur, serta informasi yang dapat dipertanggungjawabkan kepada calon investor.
Langkah tersebut dinilai penting karena potensi daerah saja belum cukup untuk menarik investasi. Investor juga membutuhkan kepastian mengenai kelayakan proyek, peluang pasar, dan prospek pengembangan usaha.
Bupati Dian mengatakan, pemerintah daerah tidak bisa hanya mengandalkan pembangunan infrastruktur dan program pengentasan kemiskinan. Upaya menarik investasi juga perlu menjadi bagian dari strategi pembangunan untuk memperluas kegiatan ekonomi dan menciptakan lapangan kerja.
“Selain mengurus infrastruktur dan pengentasan kemiskinan, daerah juga harus mendorong investasi. Melalui KBIF, kita ingin membangun kerja sama agar potensi masing-masing daerah bisa dipromosikan bersama dan peluang investasinya semakin terbuka,” katanya.
KBIF selanjutnya diproyeksikan menjadi wadah bersama bagi pemerintah daerah anggota untuk menyiapkan sekaligus mempromosikan peluang investasi. Melalui pendekatan kolaboratif, setiap daerah dapat menawarkan potensi unggulannya dan menjajaki peluang kerja sama dengan mitra usaha.
Kegiatan pengukuhan kepengurusan tersebut turut dihadiri Kepala Perwakilan Bank Indonesia Cirebon dan Direktur Utama PT Bandar Udara Internasional Jawa Barat (BIJB) Kertajati. Kehadiran kedua pihak diharapkan mendukung penguatan ekosistem ekonomi kawasan, terutama dalam mempertemukan kebutuhan dunia usaha dengan peluang pengembangan daerah.
Forum Kunci Bersama beranggotakan Kabupaten Kuningan, Kabupaten Cirebon, Kota Cirebon, Kabupaten Ciamis, Kabupaten Cilacap, Kabupaten Indramayu, Kabupaten Pangandaran, Kabupaten Majalengka, Kota Banjar, Kabupaten Brebes, dan Kabupaten Banyumas.
Sebelas daerah tersebut memiliki karakteristik dan keunggulan ekonomi yang berbeda. Jika dihubungkan melalui kemitraan yang tepat, perbedaan potensi itu dapat menjadi kekuatan untuk memperluas perdagangan dan mendorong investasi lintas wilayah.
Kini, tantangan Kunci Bersama terletak pada tindak lanjut dari kesepakatan yang telah dibuat. Perluasan pasar harus terlihat dari transaksi perdagangan yang berjalan, sementara promosi investasi perlu berujung pada proyek yang terealisasi dan membuka kesempatan kerja.
Bagi masyarakat di kawasan perbatasan, keberhasilan transformasi ini bukan semata-mata diukur dari banyaknya pertemuan atau kesepakatan kerja sama. Ukuran yang lebih nyata adalah ketika hasil pertanian terserap pasar, usaha lokal berkembang, investasi masuk, dan manfaatnya dapat dirasakan langsung oleh masyarakat.















