Hoaks Makin Canggih, Jurnalis Kuningan Diingatkan Lebih Waspada

KUNINGANSATU.COM, – Derasnya arus informasi di media digital menuntut jurnalis semakin cermat dalam memeriksa fakta sebelum berita dipublikasikan. Kecepatan menyampaikan informasi harus tetap diimbangi akurasi, verifikasi, dan tanggung jawab agar masyarakat tidak terjebak hoaks maupun disinformasi.

Pesan tersebut disampaikan Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) Kabupaten Kuningan, Drs. H. Ucu Suryana, M.Si., saat menjadi narasumber dalam kegiatan Jurnalis Gathering & Capacity Building yang digelar Pokja Wartawan Polres Kuningan di Talaga Surian Camp, Palutungan, Kabupaten Kuningan, Jumat (16/10/2026).

Dalam kegiatan yang berlangsung selama dua hari, 16–17 Oktober 2026, Ucu didampingi Kepala Bidang Informasi dan Komunikasi Publik (IKP) Diskominfo Kuningan, Nana Suhendra, M.Pd. Ia membawakan materi bertajuk “Literasi Media dan Tantangan Disinformasi: Strategi Publikasi Berita di Era Digital”.

Ucu menyoroti perubahan pola penyebaran informasi yang kini tidak lagi bergantung pada portal berita. Media sosial, video pendek, hingga grup percakapan turut menjadi saluran utama masyarakat dalam memperoleh informasi.

Di satu sisi, perkembangan tersebut membuka peluang bagi berita untuk menjangkau lebih banyak pembaca. Namun, di sisi lain, informasi yang belum terverifikasi juga dapat menyebar dengan cepat dan memicu kesalahpahaman di tengah masyarakat.

Karena itu, ia menekankan pentingnya menjaga kualitas pemberitaan di tengah tuntutan kecepatan publikasi.

Menurut materi yang disampaikan, berita yang baik tidak cukup hanya menarik perhatian. Informasi juga harus akurat, berimbang, serta memberikan manfaat bagi masyarakat tanpa mengandalkan sensasionalisme.

Strategi penyajian berita pun perlu menyesuaikan karakter setiap platform, mulai dari portal berita, Instagram, TikTok, YouTube, hingga WhatsApp. Kendati format dan cara penyampaiannya berbeda, fakta yang disampaikan harus tetap konsisten.

Keberhasilan publikasi, lanjutnya, tidak semata-mata ditentukan oleh jumlah penayangan atau viralitas. Akurasi dan integritas tetap menjadi ukuran penting dalam menjaga kepercayaan publik.

Persoalan disinformasi menjadi semakin kompleks seiring berkembangnya teknologi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI). Teknologi tersebut memungkinkan foto, video, dan rekaman suara dibuat atau dimanipulasi sehingga terlihat meyakinkan, meskipun belum tentu menggambarkan kejadian sebenarnya.

Dalam konteks jurnalistik, kondisi ini menuntut pemeriksaan yang lebih teliti sebelum sebuah informasi diterbitkan.

Jurnalis perlu memastikan sumber informasi, memeriksa tanggal dan konteks kejadian, serta mengonfirmasi keterangan kepada pihak terkait. Fakta, dugaan, dan opini juga harus ditempatkan secara jelas agar tidak menimbulkan persepsi yang keliru.

Apabila ditemukan kesalahan dalam pemberitaan, koreksi perlu dilakukan secara terbuka dan bertanggung jawab.

Materi tersebut juga membahas perbedaan misinformasi, disinformasi, dan malinformasi. Ketiganya dapat berdampak pada reputasi seseorang, memicu kesalahpahaman, hingga mengikis kepercayaan masyarakat terhadap lembaga dan pelayanan publik.

Selain membahas literasi media, kegiatan tersebut menjadi ruang untuk memperkuat komunikasi antara pemerintah dan insan pers.

Pemerintah memiliki tanggung jawab menyediakan informasi publik serta merespons permintaan konfirmasi. Sementara itu, pers menjalankan fungsi jurnalistik melalui verifikasi, penyampaian informasi kepada masyarakat, serta pengawasan dan kontrol sosial.

Hubungan kedua pihak perlu dibangun melalui keterbukaan informasi dan profesionalisme. Namun, kemitraan tersebut tidak boleh menghilangkan independensi pers dalam menjalankan tugasnya.

Kritik yang disampaikan berdasarkan fakta justru menjadi bagian penting dalam mengevaluasi kebijakan dan memperbaiki kualitas pelayanan publik.

Ketua Pokja Wartawan Polres Kuningan, Elly Said Karta, mengatakan kegiatan Jurnalis Gathering & Capacity Building merupakan agenda silaturahmi yang diupayakan berlangsung setiap tahun.

Ia menjelaskan, kegiatan pada tahun-tahun sebelumnya lebih banyak diisi diskusi, pertemuan, dan makan bersama. Tahun ini, panitia memilih konsep berkemah di Talaga Surian agar suasana kebersamaan ant jurnalis terasa lebih santai dan akrab.

Elly berharap kegiatan tersebut dapat terus berlanjut sebagai sarana mempererat hubungan antarinsan pers sekaligus memperkuat peran jurnalis dalam mengawasi pembangunan daerah.

Ia juga mengakui keterbatasan dukungan donatur dan sponsor membuat belum seluruh jurnalis dapat terakomodasi dalam kegiatan kali ini. Meski demikian, ia berharap keterbatasan tersebut tidak mengurangi semangat untuk membangun solidaritas dan menjaga komunikasi di antara para jurnalis.

Mengusung tema “Sendiri Kita Setetes, Bersama Kita Lautan, Bersinergi, Berkolaborasi, Menguatkan Negeri”, kegiatan ini juga dijadwalkan menghadirkan materi dari Dandim 0615 Kuningan dan Kapolres Kuningan.

Berdasarkan susunan acara, agenda Jumat malam mencakup kegiatan kebersamaan bersama Bupati, Wakil Bupati, dan Sekretaris Daerah Kabupaten Kuningan. Sementara itu, kegiatan pada Sabtu pagi diisi dengan olahraga bersama dan permainan kelompok.

Melalui pertemuan tersebut, penguatan kapasitas jurnalistik diharapkan tidak berhenti pada kegiatan pelatihan, tetapi juga tercermin dalam praktik pemberitaan sehari-hari. Di tengah derasnya arus informasi digital, ketelitian memeriksa fakta, keterbukaan informasi, dan independensi pers menjadi modal penting untuk menjaga kepercayaan masyarakat.

Deskripsi Iklan Anda

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Tutup