Bukan Sekadar Mengaji, Ini Tantangan Santri di Era Digital Menurut Alan Suwgiri
KUNINGANSATU.COM – Peringatan Hari Santri Nasional setiap 22 Oktober bukan sekadar momentum untuk mengenang sejarah perjuangan kaum santri dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Lebih dari itu, Hari Santri menjadi pengingat bahwa pesantren memiliki peran strategis dalam menjawab berbagai tantangan bangsa, termasuk persoalan karakter, moralitas, dan masa depan generasi muda.
Pengurus Lembaga Perekonomian Nahdlatul Ulama (LPNU) Jawa Barat, Alan Suwgiri, menilai bahwa di tengah perubahan sosial yang begitu cepat, pesantren memiliki modal penting yang semakin dibutuhkan masyarakat, yakni pendidikan akhlak, kedisiplinan, kemandirian, dan tradisi menghormati ilmu.
Menurutnya, kemajuan teknologi dan derasnya arus informasi telah membuka peluang besar bagi generasi muda. Namun, kemajuan tersebut juga menghadirkan tantangan yang tidak sederhana. Anak-anak muda kini dapat mengakses berbagai informasi dalam hitungan detik, tetapi kemudahan itu belum tentu diikuti kemampuan menyaring informasi, mengendalikan diri, dan mempertimbangkan dampak dari setiap tindakan.
“Anak muda hari ini tidak kekurangan akses terhadap informasi. Mereka bisa belajar apa saja melalui internet. Persoalannya adalah bagaimana membangun karakter agar pengetahuan dan teknologi yang mereka kuasai digunakan untuk hal-hal yang bermanfaat. Di sinilah pendidikan karakter yang menjadi tradisi pesantren memiliki arti penting,” ujar Alan.
Ia menjelaskan, pesantren tidak hanya mengajarkan pengetahuan agama, tetapi juga membentuk kebiasaan hidup yang mendidik santri untuk menghargai waktu, menaati aturan, hidup sederhana, menghormati guru, serta bertanggung jawab terhadap lingkungan dan sesama. Nilai-nilai tersebut menjadi fondasi penting agar generasi muda tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga matang dalam bersikap.
Dalam pandangan Alan, persoalan karakter tidak bisa diselesaikan hanya dengan menambah mata pelajaran atau memberikan nasihat. Pembentukan karakter membutuhkan lingkungan yang mendukung, keteladanan, pembiasaan, dan proses pendidikan yang berlangsung secara konsisten. Tradisi kehidupan di pesantren memiliki potensi besar untuk menghadirkan proses tersebut.
Meski demikian, ia mengingatkan bahwa tantangan zaman terus berkembang. Pesantren juga perlu memperkuat kemampuan santri dalam memahami teknologi, literasi digital, kewirausahaan, dan persoalan sosial-ekonomi masyarakat. Dengan demikian, nilai-nilai luhur yang dipelajari di pesantren dapat diterjemahkan menjadi karya dan kontribusi nyata bagi kehidupan bangsa.
“Santri harus memiliki akhlak yang kuat sekaligus kemampuan untuk menjawab persoalan zamannya. Jangan sampai kita hanya bangga pada sejarah pesantren, tetapi tidak menyiapkan santri untuk menghadapi tantangan masa depan. Santri harus mampu menjaga nilai-nilai agama, menguasai ilmu pengetahuan, memanfaatkan teknologi, dan memberikan solusi bagi masyarakat,” tegasnya.
Alan juga menyoroti pentingnya membangun hubungan yang lebih erat antara pesantren, keluarga, sekolah, dan masyarakat. Krisis karakter generasi muda bukan tanggung jawab satu lembaga saja. Orang tua perlu memberikan keteladanan, lembaga pendidikan harus membangun budaya belajar yang sehat, sedangkan masyarakat perlu menciptakan lingkungan yang mendukung tumbuhnya generasi berintegritas.
Dalam konteks pembangunan daerah, pesantren juga dapat berperan sebagai pusat pemberdayaan masyarakat. Melalui pendidikan, kegiatan sosial, pengembangan keterampilan, serta penguatan ekonomi berbasis komunitas, pesantren berpotensi melahirkan generasi yang tidak hanya memiliki kesalehan pribadi, tetapi juga kepedulian sosial dan kemampuan meningkatkan kesejahteraan lingkungan sekitarnya.
Bagi Alan, ukuran keberhasilan pendidikan santri tidak cukup dilihat dari banyaknya ilmu yang dikuasai atau gelar yang diperoleh. Keberhasilan itu juga tercermin dari kejujuran, tanggung jawab, kepedulian terhadap masyarakat, serta keberanian menggunakan pengetahuan untuk memperbaiki keadaan.
“Bangsa ini membutuhkan generasi muda yang bukan hanya pintar berbicara, tetapi juga jujur dalam bertindak. Kita membutuhkan anak muda yang tidak mudah menyerah, tidak kehilangan arah ketika menghadapi perubahan, dan tidak melupakan tanggung jawab sosialnya. Pesantren memiliki warisan nilai yang sangat berharga untuk ikut membentuk generasi seperti itu,” ungkapnya.
Pada momentum Hari Santri Nasional 2026, Alan mengajak seluruh elemen masyarakat untuk tidak memandang pesantren semata-mata sebagai lembaga pendidikan tradisional. Pesantren perlu ditempatkan sebagai bagian penting dari masa depan Indonesia, terutama dalam membangun sumber daya manusia yang berkarakter, adaptif, mandiri, dan mampu menghadapi perubahan zaman.
Ia berharap peringatan Hari Santri tidak berhenti pada kegiatan seremonial, tetapi menjadi momentum untuk memperkuat kualitas pendidikan pesantren, memperluas kesempatan santri dalam mengembangkan kompetensi, serta membangun kolaborasi yang lebih luas dengan berbagai pihak.
“Pesantren mengajarkan bahwa kecerdasan harus berjalan bersama akhlak, ilmu harus melahirkan manfaat, dan keberhasilan seseorang harus membawa kebaikan bagi orang lain. Di tengah krisis karakter yang menjadi tantangan generasi muda, nilai-nilai itulah yang harus terus kita rawat dan hidupkan,” pungkas Alan.















