Gedung Perpustakaan Bagus Tak Cukup, Kadispusipda Jabar Ungkap yang Lebih Penting
KUNINGANSATU.COM,- Literasi di era banjir informasi tidak lagi cukup dimaknai sebagai kemampuan membaca dan menulis. Masyarakat dituntut mampu memahami, memilah, mengevaluasi hingga memanfaatkan informasi secara bijak.
Hal tersebut disampaikan Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Daerah (Dispusipda) Provinsi Jawa Barat, Drs. H. Kusmana Hartadji, M.M., saat menghadiri Festival Literasi Kabupaten Kuningan Tahun 2026 di Perpustakaan Umum Daerah Kuningan, Jalan Siliwangi No. 216 C, Purwawinangun, Kamis (8/10/2026).
Festival Literasi Kabupaten Kuningan tahun ini mengusung tema “Tenggelam dalam Literasi, Terbit Generasi Berprestasi”.
Menurut Kusmana, perkembangan teknologi membuat arus informasi bergerak sangat cepat. Potongan informasi dari media sosial seperti TikTok maupun Instagram sering kali beredar tanpa konteks yang utuh.
Karena itu, kemampuan literasi menjadi penting agar masyarakat tidak mudah menerima maupun menyebarkan informasi yang belum diketahui kebenarannya.
“Literasi bukan sekadar kemampuan membaca dan menulis saja. Literasi merupakan kemampuan untuk memahami informasi, berpikir kritis, mengembangkan pengetahuan, berkomunikasi, berkarya, serta mengambil keputusan secara bijak,” ujar Kusmana dalam sambutannya.
Ia menilai, gerakan literasi harus melibatkan lebih banyak unsur masyarakat. Salah satunya melalui peran Bunda Literasi dan Tim Penggerak PKK yang dinilai memiliki kedekatan langsung dengan masyarakat hingga tingkat kecamatan.
Kusmana bahkan mendorong agar gerakan literasi tidak hanya berhenti di tingkat kabupaten, tetapi dapat diperluas hingga lingkungan masyarakat paling bawah.
Menurutnya, keterbatasan anggaran tidak semestinya menjadi alasan untuk menghentikan gerakan literasi. Kolaborasi antarlembaga dan keterlibatan masyarakat justru menjadi kunci agar program literasi tetap berjalan.
“Yang terpenting bagaimana masyarakat bisa terlibat,” katanya.
Kusmana juga menyoroti perubahan paradigma dalam pengelolaan perpustakaan. Menurutnya, pembangunan gedung perpustakaan yang bagus saja tidak cukup apabila tidak diikuti pelayanan yang aktif kepada masyarakat.
Ia menyebut hasil Rakor yang diikutinya menunjukkan bahwa perpustakaan kini dituntut lebih banyak menghadirkan pelayanan kepada masyarakat.
“Gedung saja tidak cukup. Sekarang pustakawan harus turun ke lapangan. Yang terpenting 70 persen pelayanan, sarana prasarana cukup 30 persen saja,” ungkapnya.
Ia berharap perpustakaan tidak hanya menjadi tempat membaca, tetapi berkembang sebagai ruang bertemu, belajar, berkolaborasi dan menghasilkan gagasan. Konsep seperti co-working space juga dinilai dapat dikembangkan di perpustakaan.
Kusmana kemudian menyampaikan tiga langkah yang perlu dimiliki pustakawan, yakni terlibat, bersinergi dan berdampak.
Terlibat berarti pustakawan harus hadir secara proaktif di tengah masyarakat dan menjadikan perpustakaan sebagai ruang kolaborasi terbuka.
Kemudian bersinergi dilakukan dengan membangun kemitraan lintas sektor, mulai dari pemerintah, swasta, akademisi hingga komunitas.
Sementara berdampak berarti kegiatan literasi harus menghasilkan perubahan nyata, termasuk dalam peningkatan kecakapan hidup, pemulihan ekonomi hingga pengentasan kemiskinan.
“Literasi itu membawa kesejahteraan. Bukan hanya berperan dalam literasi, tetapi secara ekonomi juga dapat meningkatkan pendapatan masyarakat,” jelasnya.
Dalam kesempatan tersebut, Kusmana juga memberikan apresiasi terhadap capaian Kabupaten Kuningan di tingkat Provinsi Jawa Barat.
Salah satunya diraih Perpustakaan Insan Cipta, Desa Kertayasa, Kabupaten Kuningan, yang berhasil menjadi Juara 1 Lomba Perpustakaan Desa Terbaik Tingkat Provinsi Jawa Barat.
Selain itu, prestasi juga diraih oleh siswa SD asal Kuningan, Nathan Alhaq Hibrizi, yang memperoleh Juara Harapan dalam Lomba Bertutur bagi Siswa SD Tingkat Provinsi Jawa Barat.
Atas capaian tersebut, Kusmana menyampaikan apresiasi Pemerintah Provinsi Jawa Barat kepada Pemerintah Kabupaten Kuningan dan seluruh pihak yang selama ini mendukung pengembangan budaya gemar membaca dan literasi.
Ia berharap dukungan terhadap pengembangan perpustakaan dan literasi di Kuningan terus diperkuat, baik dari sisi kebijakan, anggaran maupun kolaborasi dengan berbagai pihak.
Kusmana juga mengapresiasi kehadiran Bupati Kuningan Dr. H. Dian Rachmat Yanuar, M.Si., beserta Ketua Tim Penggerak PKK yang juga telah dikukuhkan sebagai Bunda Literasi.
Menurutnya, kehadiran kepala daerah dalam kegiatan literasi menunjukkan adanya komitmen pimpinan daerah terhadap peningkatan budaya literasi masyarakat.
Ia berharap sinergi antara Pemkab Kuningan, Dispusipda Jawa Barat, Dispusipd Kuningan, PKK, Bunda Literasi, pustakawan, komunitas serta masyarakat dapat terus diperkuat.
“Jadikan literasi sebagai gerakan bersama. Mari kita hadirkan perpustakaan yang semakin dekat dengan masyarakat,” pungkasnya.















