• Jelajahi

    Best Viral Premium Blogger TemplatesPremium By Raushan Design With Shroff Templates

    Tritangtu, Realitas Yang Tergerus Modernitas

    Rabu, 19 Maret 2025, Maret 19, 2025 WIB Last Updated 2025-03-19T10:51:36Z


    Oleh :
    Yudi Setiadi

    KuninganSatu.com, - Dapat difahami bahwa kosmologi Sunda kuna membagi jagat raya ke dalam tiga alam, yaitu bumi sangkala (dunia nyata, alam dunia), buana niskala (dunia gaib, alam gaib), dan buana jatiniskala (dunia atau alam kemahagaiban sejati). Ketiga alam tersebut, kemudian tersentralisasi dalam konsep gunung sebagai lambang poros kosmos yang merupakan pertemuan tiga wilayah kosmik, yaitu surga, bumi, dan neraka.


    Kosmologi Sunda Kuna bukan hanya dimaksudkan untuk pengetahuan semata-mata mengenai struktur jagat raya, melainkan lebih ditujukan sebagai media agar kehidupan manusia jelas tujuan akhirnya.


    Kosmologi sunda tersebut kemudian dikenal dengan istilah “Tritangtu” yang merupakan dasar dari akar filosofis sunda. Perjalanan hidup manusia tidak terpisah dari wadah tiga alam atau buana, yaitu Buana Nyungcung (alam segala asal, berkedudukan paling tinggi), Buana panca tengah (alam rahim), Buana Larang (alam mahluk, pawenangan).


    Dari sistematika tersebut kemudian diaplikasikan ke dalam kehidupan menjadi Tritangtu yang terbagi menjadi tritangtu di salira, tritangtu di balarea, dan tritangtu dibuana.


    Tritangtu di salira mengacu pada tiga titik pusat dari tiga bagian tubuh, yaitu dada, perut, dan kepala (DA, SA, RA). Tritangtu di balarea merupakan tata nagara (jati nagara), berisi ketentuan kehidupan bermasyarakat dalam negara. Tritangtu di balarea terbagi menjadi, triguna leuweung, tritangtu kampung, dan tribuana imah. Tritangtu di buana merupakan ketentuan beragama dalam negara yang mengacu pada pembagian tugas sentral sebagai Ratu, Resi, dan Rama.


    Dari beberapa macam Tritangtu yang disebutkan di atas, maka triguna leuweung merupakan tritangtu yang cocok dalam bahasan ini. Triguna leuweung membagi leuweung menjadi tiga jenis, yaitu leuweung larangan (hutan keramat atau dikeramatkan karena merupakan kawasan serapan air), leuweung tutupan (hutan lindung merupakan tempat atau habitat satwa), dan leuweung baladahan (hutan titipan merupakan tempat aktivitas manusia atau pilemburan).


    Jenis leuweung menggambarkan konsep tata ruang alami yang benar, karena leuweung memiliki fungsi perlindungan yang hakiki dalam keseimbangan hidup manusia.


    Berdasarkan hal tersebut, maka filosofi hidup masyarakat Sunda adalah “Mulasara Buana, yaitu memelihara alam semesta. Visi hidup yang terbentuk dari perlunya menjaga keseimbangan alam dari berbagai perilaku yang cenderung mengeksploitasi alam secara berlebihan.


    Kearifan tradisional dalam penataan ruang di Tatar Sunda tercermin dalam papatah atau pesan ‘Gunung-kaian, Gawir-awian, Cunyusu-rumateun, Sampalan-kebonan, Pasir-talunan, Dataran-sawahan, Lebak-caian, Legok-balongan, Situ-pulasaraeun, Lembur-uruseun, Walungan-rumateun, Basisir-jagaeun.


    Ulah nepi ka anak incu jadi saksi kajadian leuweung ruksak, cai beak, antukna manusa balangsak.


    Dalam perjalanan menuju peradaban yang lebih tinggi, budaya berperan sebagai pilar utama. Pamor Kujang Pajajaran menjadi simbol kearifan yang membimbing kita untuk mewujudkan Jati Kusumah (Pakujajar Hanjuang Siyang). Esensinya adalah menciptakan bentuk dan rasa keadilan bagi semua pihak, baik untuk diri sendiri (adil ka diri), masyarakat luas (adil ka balarea), maupun kepentingan bersama (adil ka sarerea).


    Dengan menjunjung nilai-nilai ini, kita bisa menjadi bangsa yang berdaulat dan merdeka lahir batin. Filosofi ini tercermin dalam prinsip teu sirik, pidik, jail, kaniaya. Teu sudi ngajajah, teu sudi dijajah. Nilai-nilai ini dulu telah menjadi karakter kepemimpinan Sri Baduga Maharaja Prabu Siliwangi dan Prabu Surawisesa, yang berhasil membangun dan memakmurkan Pajajaran.


    Pujian dari sejarawan Barat seperti Tome Pires menjadi bukti betapa kejayaan Pakuan Pajajaran lahir dari kemauan dan kemampuan manusia dalam menciptakan harmoni dengan alam dan sesamanya sebagai bentuk bakti kepada Tuhan.



    (red)

    Komentar

    Tampilkan

    • Tritangtu, Realitas Yang Tergerus Modernitas
    • 0

    Terkini