• Jelajahi

    Best Viral Premium Blogger TemplatesPremium By Raushan Design With Shroff Templates

    Maraknya Kasus Amoral di Kuningan, Yudi Setiadi : Tendensi Yang Merugikan Banyak Pihak

    Rabu, 12 Februari 2025, Februari 12, 2025 WIB Last Updated 2025-02-20T03:50:35Z

     

    Kuningan - Maraknya kasus amoral khususnya kekerasan seksual di Kabupaten Kuningan akhir-akhir ini menjadi hal yang sangat miris. Terlebih, dari beberapa kasus tersebut baik pelaku maupun korban berada pada lingkup pendidikan yang menjadi landasan aqidah yang menentukan moral  generasi penerus bangsa.

    Di era perkembangan teknologi informasi yang sangat pesat ini, begitu cepatnya tersebar melalui berbagai platform media sosial tentang kasus amoral yang melibatkan berbagai kalangan. Mirisnya pada beberapa kasus amoral justru melibatkan nama pondok pesantren bahkan seorang guru ngaji yang notabene melekat dengan agama Islam.

    Menanggapi hal tersebur, Yudi Setiadi, seorang pemerhati budaya di Kabupaten Kuningan merasa sangat perihatin dengan adanya hal tersebut. Menurut Yudi, kasus kekerasan seksual yang banyak terjadi di Kabupaten Kuningan ini menandakan adanya degradasi moral dan budaya di masyarakat.

    "Sejak dulu, masyarakat kita ini terkenal sebagai masyarakat yang berbudaya luhur dan menjunjung tinggi nilai-nilai moral yang ada. Tapi dengan banyaknya kekerasan seksual yang terjadi apalagi di lingkungan yang notabene kental dengan keagamaan, saya yakin ada yang salah dengan masyarakat kita saat ini," kata Yudi ketika berbincang dengan kuningansatu.com, Rabu 12/2/2025.

    Yudi mengatakan, akan ada tendensi yang berbeda ketika kasus-kasus kekerasan seksual ini justru terjadi di lingkungan yang identik dengan keagamaan, apalagi pelaku dari kekerasan ini merupakan seseorang yang justru dianggap sebagai seseorang yang faham akan agama.

    "Coba bayangkan apa yang ada di dalam fikiran kita sebagai orang tua, jika mendapati berita bawa ada guru ngaji mencabuli santri, atau berita pencabulan terhadap santri di pondok pesantren? ," tanya Yudi.

    Meskipun tidak semua guru ngaji melakukan hal seperti itu, atau tidak di semua pondok pesantren terjadi hal serupa, tapi masyarakat khususnya orang tua akan 1000 kali berfikir untuk memasukan anaknya ke pondok pesantren, atau menyuruh anaknya belajar mengaji kepada seorang guru ngaji, tentunya kekhawatiran itu akan timbul.

    "Inilah tendensi yang salah, kenapa pesantrenya yang seolah dihakimi dengan fikiran-fikiran yang tidak baik?Kenapa status sebagai guru ngaji yang dicap sebagai suatu profesi yang tidak baik hingga menimbulkan kekhawatiran khususnya bagi orang tua?padahal semua itu hanya perbuatan oknum, tidak semuanya seperti itu," tandas Yudi.

    Dalam hal ini, kata Yudi, peran aktif berbagai stakeholder seperti Kementerian Agama, Dinas Pendidikan, bahkan Pemerintahan setempat sangatlah penting dalam memberikan pembinaan baik kepada personal maupun institusi untuk menanamkan nilai-nilai moral dan budaya yang menjadi ciri khas bangsa kita.

    Yudi juga berharap, dalam hal publikasi kasus-kasus serupa baik di media massa maupun personal  di media sosial, jangan ada tendensi terhadap lembaga ataupun profesi, karena efeknya akan sangat buruk bagi masyarakat kita saat ini yang dinilai sedang ada dalam fase degradasi moral.

    "Jangan membakar lumbung hanya karena seekor tikus, ini tendensi yang salah, bahkan saya sebut menyesatkan," kembali Yudi menegaskan.

    Dirinya selaku pemerhati budaya pun menyanggupi bilamana dibutuhkan tenaga maupun fikiran untuk berkolaborasi dengan berbagai pihak untuk menyelesaikan masalah yang menjadi tanggung jawab bersama ini.

    "Masalah ini merupakan tanggung jawab bersama, bukan hanya institusi seperti disdik, kemenag, polisi dan lainnya. Kami siap berkolaborasi bilamana dibutuhkan, karena kami juga masyarakat, yang begitu tersayat hati mendengar semua permasalahan tersebut, apalagi kami pun sebagai orang tua," ujar Yudi.

    Di akhir pembicaraan, Yudi berharap khususnya kepada pemerintah dan kepada khalayak umum agar tidak main-main dalam menyikapi permasalahan amoral ini. Karena satu-satunya yang bisa menghancurkan bangsa Indonesia ini adalah dengan menghancurkan moral masyarakatnya.

    "Jangan main-main, hancurnya moral merupakan titik awal kehancuran suatu bangsa, jangan sampai bangsa kita yang besar ini hancur karena masyarakatnya tidak bermoral seperti layaknya hewan. Ingatlah cerita kaum Luth yang diporak-porandakan Allah SWT karena perilaku amoral mereka," tukas Yudi.

    (roy)


    Komentar

    Tampilkan

    • Maraknya Kasus Amoral di Kuningan, Yudi Setiadi : Tendensi Yang Merugikan Banyak Pihak
    • 0

    Terkini